Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘neso indonesia’

 

Yaa kesempatan itu akhirnya datang.

Tak henti-hentinya kubersyukur atas karuniaNya yang sedemikian besar sehingga aku bisa dipertemukan dengan negeri kecil nan cantik di salah satu sudut Eropa Barat.

Belanda.

Nama yang sangat kuat terpatri di setiap ingatan penduduk Indonesia. Bukan karena kejunya yang lembut atau susu sapinya yang gurih, tapi lebih pada bagaimana selama hampir setengah abad nama tersebut menaklukkan negara Indonesia dengan tanah airnya dan mengeruk isinya demi kemakmuran penduduknya di Eropa.
Ya, Belanda telah menjajah Indonesia sedemikian lama sehingga walaupun sudah meninggalkan bekas jajahannya selama 67 tahun, peninggalannya pun masih banyak tersisa di Indonesia. Dan harus diakui infrastruktur dan public facilities yang tertinggal pun banyak yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.
Tak heran kalo negeri ini menjadi salah satu negeri termakmur di dunia saat ini dengan tingkat kepuasan penduduk terhadap kotanya yang sedemikian tinggi.

Dan akhirnya, aku pun bisa merasakan bagaimana negeri ini bisa sedemikian maju bahkan sejak ratusan tahun yang lalu. Program S2 Double Degree yang aku ambil sejak satu tahun yang lalulah yang mengantarkanku bisa merasakan atmosfer kesuksesan suatu negara dalam melayani penduduknya.

26 Agustus kuberangkat dari Soekarno-Hatta Int’l Airport jam 19.35 dengan diantar oleh seluruh anggota keluarga termasuk isteri, papa, mama, dede dan ade. Tiba di airport masih sekitar jam 16.00 WIB. Setelah sholat ashar di terminal 2D, kubergegeas checkin bagasi ke counter Malaysia Airlines. Ya, sedikit kecewa kenapa tidak naik Garuda Indonesia saja biar lebih nasionalis. Tapi karena memang semua sudah diatur oleh NESO Indonesia, kami terima beres dan mendapat tiket MAS sebagai pengantar kami study di Holland. Sebelum cekin aku sempatkan dulu untuk menimbang bagasi dengan alat timbangan digital punya temen seperjuangan. Di layar seven-segmen LCD di timbangan tersebut tertera angka 27kg. Amaaan pikirku.

Setelah checkin dan menaikkan koper segede gaban punyaku, ternyata di counter checkin tertera angka 24kg. Wah timbangannya MAS ini agak ‘baikan’ ternyata. Bahkan seorang temen yang bagasinya 31.5kg ternyata setelah ditimbang di counter checkin cuma 29.5kg. Ya jatah free baggage kita memang 30kg/student.

Walaupun sudah diberi extra 10kg(s) dari batas maksimum bagasi standar (20kg) tetap saja banyak yang bawaannya mepet-mepet bahkan lebih dari 30kg. Terpaksa kreatifitas untuk saling nitip kelebihan bagasi ke koper teman yang kuotanya masih ringan terjadilah. Singkat kata kami bisa checkin dan nggak ada yang over baggage. Keren ya.. #apasih

suasana antri bagasi di terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta

Rute penerbangan menuju negeri londo adakah Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam. Kami cuma punya waktu kurang dari satu jam di KL untuk berpindah pesawat. Rute Jakarta-Kuala Lumpur MAS menggunakan armada Boeing 737-800NG persis seperti yang Garuda punya dengan wing tip menjulang. Hanya saja, interior pesawat ini tidak lebih baik dari interior Lion Air 737-900NG dengan kursi kulit biru, walaupun jarak antar seatnya sedikit lebih lega dari JT. Jangan bandingkan dengan interior Garuda yang lebih elegan dan nyaman dengan passenger seat berbahan kain. Singkatnya kita takeoff agak terlambat sekitar 30 menit dari waktu yang tercetak di boarding pass. Maklum hari itu adalah hari puncak arus  mudik sehingga lalu lintas bandara Soetta juga sedemikian padat. Setidaknya yang aku amati pesawat yang kutumpangi ini harus menunggu di short dahulu setelah 3 pesawat Lion Air mendarat berturut-turut. Setelah line-up dengan runway, pesawat dipacu untuk segera mengangkasa menuju KL.

Jam 23.30 waktu KL, atau lebih kurang 2 jam penerbangan CGK-KL pesawat landing dengan mulus di Kuala Lumpur International Airport. Setelah turun dari pesawat, kubergegas masuk terminal kedatangan. Memang harus diakui bandara KL ini sangat bagus penataan, desain dan arsitekturnya. Canggihnya lagi, ada aerotrain sejenis kereta tanpa awak yang mengantar penumpang dari terminal yang satu ke terminal yang lain di bandara tersebut dengan gratis dan cepat. Setelah naik aerotrain, segera kami menuju gate 37 yang ternyata sudah pada antri untuk boarding ke pesawat selanjutnya yang mengantar kita ke Amsterdam. Security Check di Malaysia lumayan ketat. Entah kenapa laptop harus dikeluarkan dari tas. Beruntung aku nggak disuruh untuk ngeluarin.

Pesawat MAS yang mengantar ke Amsterdam kali ini adalah Boeing 777-200 pesawat berbadan lumayan lebar dengan dua alleys (gang) dan memang ditujukan untuk penerbangan jarak jauh. Tidak seperti 738 yang kursinya mirip angkot/bus ekonomi, 772 memiliki kursi yang nyaman, dengan headrest yang bisa disesuaikan dengan bentuk kepala. Selain itu, fasilitas entertainment seperti AVOD (Audio Video On Demand) sebanyak 67 channel plus multimedia, dan onboard GPS pun cukup menghibur penumpang agar nggak mati gaya saat terbang selama 14 jam.nTapi MAS bukan tanpa drawbacks. Menu makanan dan minuman MAS di lidah saya tidak terasa spesial bahkan cenderung tidak terlalu enak. Jauh sekali bila dibandingkan dengan GA yang menunya memang masuk di lidah. Saya coba nasi ayam ternyata bumbunya agak hambar, bubur kambing juga baunya menyengat, kambing buangett.. begitu juga untuk snack-snacknya seperti cracker yang rasanya aneh.

Singkat kata, setelah terbang selama hampir semalaman, jam 6.20 pagi waktu Amsterdam, pesawat mendarat di Schiphol Int’l Airport dengan mulus, bahkan saya nggak merasa kalo pesawat sudah touch ground.

Bandara Schiphol ternyata juga cukup besar walaupun desainnya belum mampu mengalahkan bandara KLIA di Malaysia. Setelah cek imigrasi untuk cap visa, kami pun pergi ke baggage claim untuk mengambil bagasi.
Disini saya sempatkan telpon istri dengan skype to skype yang sudah terinstall di handphone kami masing-masing. Beruntung wifi di Schiphol cukup baik dan kenceng sehingga bisa komunikasi tanpa masalah.
Kelar ambil bagasi, saya dan temen-temen kemudian keluar ke lobby kedatangan buat cari tiket KA ke Groningen. Tiket seharga EU24 tersebut bisa dipakai selama sehari penuh untuk sekali naik. Sebelum turun ke stasiun yang ada di bawah bandara, kami sempatkan foto-foto dulu di halaman depan bandara.
Suhu di Amsterdam saat itu 11 derajat lumayan hangat untuk ukuran orang Eropa, dan cukup dingin untuk ukuran kulit tropis saya haha

Mejeng di depan Bandara Schiphol

Jam 9.20 KA Groningen tiba di stasiun Schiphol. Disini semua transportasi sangat sangat tepat. Kalaupun terlambat atau kecepetan, paling kisaran 1-2 menit an. Hebatnya hampir semua KA dilengkapi dengan wifi gratis, sehingga penumpang bisa dengan nyaman menggunakan internet selama perjalanan.

di dalam kereta api NS (Nederlandse Spoorwegen)

Sekitar jam 12 KA tiba di Stasiun Groningen. Stasiunnya kecil, lebih kecil dari stasiun tugu di jogja dan masih lebih bagus stasiun tugu. Untuk menggunakan WC/toilet di stasiun, penumpang harus bayar sebesar setengah sen kayak di toilet-toilet umum di Indonesia.

Waktu itu rombongan kami dijemput senior-senior kami dari angkatan sebelumnya. Ada mas Hermadi, mas Arief Cirebon, mas Arief Amrullah, mas Ryan Hidayat dan ketua PPI Groningen mas Hengky. Menuju Kornoeljestraat tempat housng kami, bisa ditempuh dengan menggunakan bus kota yang terminalnya terintegrasi dengan stasiun kereta. Bus nomer 5 adalah bus yang mengantar kami menuju tempat tujuan. Tarifnya EU 1.5 dan sopirnya bertindak selaku kondektur sekaligus. Selain mengemudikan bus, dia jugalah yang nerima duit pada saat penumpang antri dengan tertib masuk satu-satu ke bus, memberikan tiket dan men-cap tiket tersebut dengan stempel tertanggal hari dan jam ini. Tiket bisa digunakan lagi selama belum lebih dari 1 jam di bus-bus kota yang lain.

 

 
rempong turun dari bus di depan kos

Nggak jauh perjalanan menggunakan bus, kami tiba di Blue Building tempat kami akan tinggal untuk setahun ke depan.Bangunan ini merupakan International Student Housing berlantai 10 dengan 32 kamar di setiap lantainya. Beruntung, kamar yang aku tempati ini sudah ditinggalkan penghuni sebelumnya dan sudah dirapikan, sehingga siap ditinggali walaupun kontrak tinggal disini baru dimulai tanggal 1 September 2012, masih 5 hari ke depan

Setelah menaruh barang di kamar masing-masing, senior ternyata sudah mempersiapkan jamuan selamat datang untuk adik-adik kelasnya. Cocok banget dengan perut yang mulai melilit setelah makanan yang terhidang terakhir adalah makanan di pesawat tadi malam yang tidak terlalu enak. Menu kali ini adalah tumis wortel, omelette kentang dan jus. Mbak Amanda lah yang meramu bumbu masakan dengan pas ditambah udara dingin Groningen sehingga membuat acara makan-makan kali ini terasa nikmat sekali.

makaan

Yaa.. Welcome to Groningen

Advertisements

Read Full Post »