Feeds:
Posts
Comments

Aha… pengunjung angkringan kang Wed kali ini mendapatkan cerita lagi
Melanjutkan cerita sepedahan yang pertama di sini, kali ini cerita itu pun berlanjut………

Efek dari racun baru berupa sepeda ternyata tidak mudah hilang begitu saja. Setelah ditinggal mudik ke kampung halaman di Jogja, ternyata teman-teman di Kalimantan tidak meninggalkan aktivitas bersepeda begitu saja, justru mereka sekarang mulai menjelajahi tempat-tempat wisata lokal di Putussibau (Kalimantan Barat) dengan menggunakan sepeda. Terinspirasi dari foto-foto facebook teman-teman waktu gowes ke danau bika, akhirnya setelah balik lagi ke Kalimantan Cross Country ke – dua dengan sepeda pun harus segera digelar hahaha….

Setelah berdiskusi dengan rekan goweser serumah (Arif dan Arif) Kebetulan mereka berdua namanya sama, diputuskanlah rute baru cross country kali ini menuju Tanjung Karang kemudian menyeberang ke Kedamin (see map).


peta harta karun… eh peta gowes kali ini
Continue Reading »

Advertisements

null

Pelan tapi pasti, akhirnya racun baru datang juga ke jantung Borneo.
sebenarnya racun baru benar-benar bekerja setelah setiap hari selalu menyambangi 2 url racun sebagai berikut :

1. SEPEDAKU
2. KASKUS SUBFORUM SEPEDA

Pertama kali melirik sepeda, waktu liat foto2 temen di facebook pada mulai gila sepeda, akhirnya pengen juga ikut hobi gowes tersebut.
Secara tidak terlalu mahal dan tidak butuh skill yang spesial. Tapi ternyata… harga sepeda sekarang udah gila-gila an, yah maklum terakhir kali beli sepeda udah jaman SMP dahulu (sekitar tahun 1991) hihihi dimana harga sepeda Federal saya waktu itu cuma sekitar 150rb

Setelah baca-baca forum tersebut rata-rata sepeda yang recommended harganya di atas 2 juta rupiah, bahkan banyak yang rekomendasi sekitar 4-5 juta rupiah…
Wow..sebuah angka yang fantastis apalagi untuk sebuah kuli rakyat rendahan seperti saya ini.

Namun setelah berpikir 1,2,3 dan ratusan kali, betapa hanya untuk sebuah sepeda yang nyata-nyata bisa meningkatkan kesehatan, kita berat hati untuk membeli, sedangkan untuk sebuah handphone atau PC kita rela merogoh kocek yang jauh lebih dalam walaupun kadang penggunaannya hanya untuk bersenang-senang saja dan sedikitttt untuk bekerja.

Setelah mengalami fase sakaw (bahasamu kang..kang…) , dimana ada sesuatu yang kurang kalau belum baca 2 forum di atas, akhirnya saya berkesimpulan untuk membeli SEPEDA!

Ya ide ini muncul setelah 1 bulan saya dengan rutin menyambangi kedua forum online tersebut.
Setelah menetapkan hati untuk memiliki sebuah sepeda, timbul kebimbangan antara merakit dan membeli sepeda jadi atau istilahnya full bike.
Pilihan merakit sangat menggoda saya dan saya hampir saja memilih metode ini. Namun sayang karena lokasi saya jauh dari tempat yang berjualan spare parts sepeda mid-highend, keinginan ini pun lama-lama pudar karena ada keinginan yang jauh lebih kuat yaitu segera memiliki sepeda.

Pada awalnya, saya ingin merakit sepeda dengan spek sebagai berikut (sengaja saya tulis biar jadi kenang-kenangan + siapa tau suatu saat akan kesampaian juga ngerakit hehehe) :

Frame : United Nucleus / Dominate / Patrol AMP
RD + FD : Shimano Deore 27sp
Crank : Shimano HT II
Fork : RST Omega 2010 atau RS Epicon
Hub + Freehub : Shimano M475
Handle bar + stem : Amoeba Borla
Rims : Alexrims EN24
Ban : Maxiss Advantage
Shifter : Shimano Deore
Brake : Tektro Auriga

tapi setelah dihitung-hitung abisnya sekitar 4-5 juta an
Sebenernya bukan ini masalah utamanya (cieee… gayamu wed wed), tapi lebih ke nggak sabarnya segera gowes yang menyebabkan saya akhirnya (dengan agak berat hati) memutuskan untuk membeli fullbike.
Apalagi rekan sekantor saya juga udah mulai ngebet bike 2 work padahal saya lah sang peracun pertama. Malu donk kalo dia udah beli sedangkan saya masih naik motor ke kantor wkwkwk.

Akhirnya, perburuan fullbike pun dimulai.

Pertama kali sempat pengen beli Polygon Cozmic 2.0 tapi sayang susah mendapatkan sepeda tersebut di Pontianak sekalipun.
Akhirnya pilihan jatuh ke XTRADA 4.0 yang kebetulan aja ada, padahal di Jawa sepeda yang termasuk best sellernya Polygon (selain seri Premier) ini rata-rata kosing dimana-mana.

Kenapa saya milih XTRADA 4.0?

Pertama : harga sepeda ini walaupun tidak murah, tapi kalau dibanding merakit bisa setara dengan sepeda 4 juta-an.
Kedua : Sepeda ini sudah menggunakan double disc brake dan fork yang cukup bagus serta RD dan FD yang “lumayan” (Alivio)
Ketiga : Tampilannya ora ngisin-isini orang jawa bilang (tampilannya gak malu-maluin) dan cukup keren

Setelah memastikan stok sepeda ini available di Pontianak, berkat bantuan rekan saya yang tugas di sana, dikirimlah sepeda ini ke Putussibau.
Sehari… dua hari.. tiga harii.. sepeda yang dinanti belum juga tiba. Akhirnya genap 4 hari sepeda datang diantar truk kargo.
Berbarengan dengan sepeda ini, ada 1 sepeda lagi pesenan temen saya (Polygon Broadway)

null
Continue Reading »

null

Medio awal 2010, pesawat trike milik Taman Nasional Betung Kerihun dioperasikan kembali.
Setelah istirahat cukup lama setelah kegiatan pelatihan lanjutan bulan Oktober – November, kemudian disusul musim hujan di akhir tahun, baru kali inilah pesawat trike dengan nomor registrasi PK-S 158 dioperasikan kembali.

Kali ini tidak hanya joyflight atau terbang di sekitar kota dengan jarak yang dekat, namun akan dioperasikan untuk medium – long XC (Cross Country) yang bertujuan untuk melakukan perintisan jalur terbang.
Sebelumnya seperti yang sudah ditulis disini pesawat ini telah teruji untuk XC dengan jarak cukup jauh (sekitar 200km).

Target XC kali ini adalah : Resort Nanga Hovat dan Resort Nanga Potan + Seksi Tanjung Kerja.

Resort merupakan kantor setingkat di bawah seksi yang brefungsi untuk pengamanan kawasan Taman Nasional dan terletak tidak jauh dari batas-batas Taman Nasional.
Karena kawasan Taman Nasional Betung Kerihun satu-satunya akses darat adalah melalui sungai. maka resort-resort TNBK ditempatkan di desa-desa terakhir sebelum kawasan Taman Nasional dan pada umumnya berlokasi di tepi sungai.

Karena jauhnya jarak dua target tersebut, maka penerbangan akan dilakukan 2 (dua) session.

Resort Nanga Hovat
Sesi pertama adalah menuju Nanga Hovat. Sebuah desa di hulu sungai Mendalam dengan jarak lebih kurang 30 km dari airbase Bandara Pangsuma Putussibau.
Jarak yang cukup dekat tersebut apabila ditempuh dengan mengikuti sungai Mendalam membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan.
Lokasi resort Nanga Hovat dapat dilihat dari peta sebagai berikut :

Waypoint : Resort Nanga Hovat

Cuaca sore 4 Februari 2010 waktu itu cukup baik, sehingga setelah semua dipersiapkan segeralah dilakukan pre flight checking untuk memastikan semua dalam kondisi yang bagus.
GPS telah diset, radio dalam kondisi full charged, dan semua instrumen telah dipastikan dalam kondisi yang baik. Wing dan wheel juga tak luput dari inspeksi sebelum terbang. Mesin, radiator busi dan karbu juga tak luput dari pengecekan.
Setelah dipastikan semua dalam kondisi laik terbang, maka perjalanan crosscountry pun dimulai.
Airbase kami adalah bandara Pangsuma Putussibau.
Bandara ini memiliki runway 10 dan 28 (one zero dan two eight). Penamaan runway ini mengacu pada arah mata angin runway, dimana runway 10 merupakan arah mata angin 100° dan runway 28 merupakan arah mata angin 280°.
Hangar yang kami miliki masih sangat sederhana dengan hanya menggunakan dinding dan atap seng seperti berikut :

null

Walaupun sederhana, namun tidak mengurangi fungsinya sebagai tempat penyimpanan pesawat trike. Kedepan, akan dikembangkan lebih baik lagi agar pesawat dapat terlindungi dengan sempurna.
Setelah takeoff, pemandangan di atas sungguh sangat menakjubkan, bahkan bagi saya sebagai seorang penerbang yang sering terbang di Pangsuma Aerodrome, setiap takeoff selalu memberikan pengalaman tersendiri dengan pemandangan yang berbeda-beda.

null
Continue Reading »

Koneksi internet bukan lagi merupakan hal yang mewah. Bahkan di angkringan Kang Wed yang sederhana pun telah dihiasi dengan koneksi ini.

Untuk ukuran Jawa apalagi Jogja, koneksi internet sudah SANGAT mudah ditemui. Bahkan konsumen rata-rata sudah tidak menanyakan : “Ada koneksi internet tidak?” tapi lebih ke pertanyaan “Koneksinya berapa meg (red: Megabit)?” atau “Pake koneksi apa sekarang?” dan biasanya berlanjut dengan pertanyaan : “Donlot dapet berapa KB per detik?”, dan pertanyaan yang sudah lebih spesifik lainnya.

Kebutuhan masyarakat akan internet dewasa ini (baca 3 tahun terakhir) sudah sangat pokok. Hanya orang katrok saja yang tidak mau menerima adanya koneksi internet.

Dahulu, koneksi internet diidentikkan dengan wahana untuk berbuat negatif seperti carding, phising dan lain sebagainya.

Namun sekarang koneksi internet sudah HARUS diadakan dimana pun kita berada.

Tahun 2008 yang lalu dimana Kang Wed menginjakkan pertama kali di Borneo setelah lebih dari 7 tahun tidak pernah kesana lagi (terakhir tahun 2001 kala magang di sebuah PT), Kang Wed sudah berbekal amunisi untuk konek ke dunia maya ini.

Maklum karena sehari-harinya berkutat dengan internet maka mempelajari ketersediaan koneksi di daerah merupakan bekal yang akan SANGAT berguna.

Tujuan Kang Wed kala itu adalah di Putussibau. Sebuah Kabupaten paling hulu di Kalimantan Barat, berjarak lebih kurang 700KM dari Pontianak, ibukota propinsi Kalimantan Barat.

Beberapa minggu (atau bahkan bulan) sebelum berangkat dimulailah googling dan chatting dengan teman-teman yang pernah kesana sekedar untuk menanyakan adakah koneksi internet di Putussibau.

Dari hasil googling dan chatting tersebut, didapat beberapa gambaran bahwa di sana tidak terdapat koneksi internet unlimited kala itu, dan hanya ada 2 operator seluler yaitu Telkomsel dan Indosat.

Karena kala itu tarif data Indosat lebih murah dibandingkan dengan Telkomsel, akhirnya dipilihkan langganan Indosat 3,5G (kapasitas 1GB) bundle dengan Matrix.

Singkat cerita, setelah dicoba di Pontianak ternyata tidak bisa konek dan setelah ditanyakan memang di Kalbar belum terdapat fasilitas untuk 3,5G Indosat kala itu. Dengan perasaan menyesal akhirnya kartu tersebut nganggur (tidak dipakai). Yang bisa digunakan hanyalah Matrix dengan kecepatan GPRSnya.

Tiba di Bandara Pangsuma Putussibau, setelah landing dari pesawat ATR-100, langsung coba nyalakan Soner K600i yang sudah tertancap Matrix. Login ke YM tiny dan Opera Mini berjalan lancar. Perasaan sedikit lega karena masih ada jalur data yang bisa dimanfaatkan.

Setelah sampai di rumah kontrakan di Putussibau, coba konek PC dengan HP, ternyata untuk konek aja susahnya minta ampun. Setelah konekpun speed download hanya sekitar 0.8KBps, SANGAT lambat sekali!

Yah, kualitas Indosat memang sangat buruk di sini.

Technology lag benar-benar terasa saat itu, dimana setiap saat Kang Wed mengakses email, YM dan browsing dengan lancar serta download dengan speed > 100KBps harus dihadapkan dengan kenyataan ini. Ya inilah INDONESIA, dimana belum semua pembangunan dirasakan di seluruh daerahnya.

Sekitar 2 (dua) bulan penderitaan akan FAKIR Bandwidth tersebut berlangsung, untung saja pada bulan Juni 08 program TELKOMSEL FLASH Unlimited direlease. Tanpa pikir panjang langsung apply ke Gerai Halo terdekat (disini belum ada GraPari). Program ini sampai sekarang sangat menolong dengan adanya koneksi unlimited.

Walaupun speed hanya GPRS namun sisi UNLIMITED merupakan sisi yang baru yang ada di kota ini.

Seiring berjalannya waktu, koneksi FLASH Unlimited kadang dudul kadang lancar. Dan dikala lancar pun speed tidak lebih dari 10KBps saat download karena terkendala BTS yang belum 3G apalagi HSDPA.

Awal tahun 2009, Telkom Speedy diluncurkan di Putussibau.

Proses aplikasinya pun mudah walaupun diharuskan membeli Modem sendiri (tidak diberikan gratis oleh Telkom).

Namun demikian, koneksi unlimited yang diharapkan ternyata belum tersedia sehingga dengan terpaksa memilih paket yang time based dengan jatah waktu 50jam per bulan (200rb), walaupun setelah overquota habisnya juga sekitar 700an ribu juga (hampir sama dengan speedy office : 750rb)

Modem yang digunakan adalah PROLiNK Hurricane 9200R Modem/Router. Untuk wireless LAN guna membagi koneksi tersebut menggunakan SENAO ESR1220 yang memiliki power sekitar 100mW dan termasuk tangguh diantara wireless router (indoor) yang ada.

PROLiNK Hurricane 9200R

Senao ESR 1220

Setelah setting VPI/VCI dan Encapsulation modenya, serta set ADSL modulation nya ke G.Dmt, kemudian login dengan username+pass yang telah diberikan TELKOM, siaplah koneksi baru ini ditest.

Continue Reading »

Angkringan Kang Wed kali ini dihiasi dengan menu baru.

Menu ini khusus didatangkan langsung dari Kapuas Hulu Kalimantan Barat.

Pertama kali mendengar nama kerupuk basah, pasti orang-orang akan membayangkan kerupuk yang “kepleh-kepleh” karena direndam air atau bayangan semacam itu.

Namun, kerupuk basah yang satu ini beda dengan istilah KERUPUK yang sering digunakan di Jawa/Sumatera dimana kerupuk pada umumnya adalah secondary lauk sebagai pendamping nasi supaya lebih lezat dinikmati.

Begitu membudayanya kerupuk di Indonesia, sehingga dari Sabang sampai Merauke kita kan selalu mudah menemukan Kerupuk di warung-warung makan maupun di restoran-restoran.

Saking akrabnya dengan Kerupuk bahkan di Pondok Modern Gontor Ponorogo, Kerupuk merupakan menu wajib para santri

Dengan memasyarakatnya kerupuk, orang akan dengan mudah membayangkan bagaimana rasa dan jenis-jenis kerupuk. Pada umumnya, kerupuk merupakan adonan tepung beras/gandum/kanji/tapioka yang diberi aroma tertentu kemudian digoreng di wajan yang panas, sehingga rasanya pun renyah dan “kriuk-kriuk”.

Oleh sebab itu, otomatis orang akan membayangkan kerupuk sebagai makanan yang renyah dan crispy

Namun jangan salah, di daerah Kapuas Hulu Kalimantan Barat kerupuk tidak hanya kerupuk yang kering atau renyah. Disini terdapat pula kerupuk yang basah. Ingat, bukan kerupuk kering yang dibasahi lho!

Tapi memang kerupuk yang sengaja dibuat tidak kering alias basah

Sebenarnya kalau menurut pandangan umum orang akan kerupuk, makanan ini tidak sesuai apabila dinamai kerupuk. Karena konotasi kerupuk akan selalu mengarah kepada barang yang getas, keras, kering dan renyah. Sedangkan makanan ini kenyal dan lunak sehingga jauh dari bayangan sebuah snack .

Kerupuk Basah

Kerupuk basah lebih mirip Siomay kalo di Jawa atau Empek-empek kalo di Sumatera.

Untuk membuat Kerupuk basah diperlukan bahan-bahan sebagai berikut : Continue Reading »

Kali ini, beberapa pengunjung Angkringan Kang Wed dibuat terkesima.

Bukan karena nyamlengnya wedang SUJAH (Susu Jahe) yang disruput sedikit dan bikin “kemepyar”. Bukan pula dikarenakan bakaran tempe mendoan yang pas dilidah, tidak gosong tidak pula mentah… jan kemripik dan cemowel. Dan dipastikan bukan karena bungkusan sego kucing yang pulen dengan hiasan kering tempe maupun sambal teri yang membuat sang lidah menari-nari.

Akan tetapi.. malam itu, bukan hanya mulut dan perut yang dimanjakan. Namun salah satu panca indera yang lain pun ikut serta merasakan pulennya suara Jheenna Lodwick, Heather Headlay maupun nyonyornya bibir Jason M’raz yang serasa konser di depan mata para sederek pengunjung Angkringan Kang Wed.

Tidak seperti biasanya pengunjung Angkringan Tampak diam menghayati setiap nada yang dilantunkan para penyanyi kelas atas tersebut. Sesekali sambil “umik-umik” mulut mereka menirukan lontaran syair dari speaker butut di pojok-pojok angkringan. Tak jarang pula kaki mereka mengetuk ke tanah setiap kali iringan instrumen berkumandang. Sungguh pemandangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sampai suatu saat, seseorang bertanya : “Wah kok nyamleng tenang suarane saiki kang?” (ind : Wah kok mantap bener suaranya sekarang kang?). Sang pemilik angkringan pun hanya tersenyum-senyum dengan simpulnya yang khas.

Rahasia apakah hingga sang pengunjung bisa terhipnotis sedemikan rupa? Simak saja flashback berikut :

Awal bulan Mei ini, salah satu teman saya Hendri a.k.a. penpinzzz mengirimkan sebuah soudcard external keluaran Behringer. Sungguh sangat beruntung bisa mendapatkan soundcard ini, karena disamping langka untuk mencarinya, barang ini juga termasuk best bang for bucks (price performance nya manstap) Soudcard ini merupakan soundcard khusus untuk musik. Kang Wed sendiri belum begitu lama mendengar tentang keberadaan soundcard ini. Namun harapan untuk mendapatkannya sontak sirna ketika mencoba menghubungi dealer Behringer di Jakarta ternyata barangnya kosong. Semenjak itu, tiada lagi impian untuk mendapatkan soudcard ini.

Namun entah karena memang teman saya Penpinzzz itu raja nemu atau memang sudah dari sononya terlahir untuk mendapatkan barang-barang murah berperforma tinggi, tak disangka dia mendapatkan soundcard tersebut di sebuah toko musik di Jogja dengan berbagai proses yang cukup unik.

Berpindahnya soundcard ini ke Angkringan Kang Wed juga bukan suatu yang direncanakan. Tanpa ada badai ataupun hujan, oom Penpinzzz serta merta melego semua peralatan perangnya. Mulai dari Philips Aurilium PSC805, M-Audio Audiophile, Echo Mia MIDI, dan soundcard-soundcard lain termasuk Behringer UCA200 ini. Bak gayung bersambut, langsung saja kang Wed minta luncurkan soundcard ini ke belantara Borneo.

Setelah paket sampai di pelukan, langsung saja dites dengar bagaimana kemampuan soundcard ini.

Bentuk soundcard ini kecil dan sederhana tanpa body yang besar, jauh sekali bila dibandingkan soundcard external seperti Philips PSC805 yang bodynya memang bongsor.

Langsung saja colok ke PC dan otomatis terdeteksi sebagai USB Audio Codec tanpa install macem-macem (walaupun driver ASIO juga disertakan). Sebagai perbandingan, Continue Reading »

null

Pengunjung angkringan Kang Wed kali ini berkumpul di angkringan yang lokasinya mepet pinggir rel antara stasiun Solo Balapan dan stasiun Tugu Yogyakarta.
Sembari membaca koran “KR” (Kedaulatan Rakyat : red) mereka dikisahkan oleh Kang Wed tentang sebuah tempat di Indonesia yang masih indah dan memiliki daya tartik besar bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Tempat tersebut terletak di sebuah Taman Nasional di wilayah pedalaman Kalimantan. Nama Taman Nasional itu adalah TN Betung Kerihun.
TN Betung Kerihun merupakan Taman Nasional yang memiliki luas 800.000 hektar. Dinamakan Betung Kerihun karena terdapat dua bukit tinggi yaitu Bukit (gunung) Betung di daerah Barat dan gunung Kerihun di daerah Timur.
Posisi Taman Nasional tepat di daerah perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Posisi yang strategis sekaligus memnberikan ancaman besar terhadap kelestarian ekosistem di Taman Nasional ini.
Secara administratif, Taman Nasional Betung Kerihun yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat dan merupakan salah satu wilayah konservasi yang relatif masih terjaga keasrian dan kelestarian ekosistemnya.

Walaupun dulu pernah terkena dampak illegal logging, namun sejak penertiban besar-besaran oleh gabungan TNI/Polri dan Polisi Kehutanan Dephut pada tahun 2004, praktis kegiatan illegal logging menurun drastis aktivitasnya, bahkan hampir mendekati 0. Namun demikian illegal logging kecil-kecilan tetap saja terjadi, terutama dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan yang mengambil kayu untuk kebutuhan pembuatan pondok, rumah dan kebutuhan perkakas sehari-hari.
Hal inilah yang sampai sekarang masih ditangani oleh pihak TN Betung Kerihun dengan berbagai pendekatan dan pemberdayaan masyarakat sebagai alternatif pendapatan daripada harus masuk ke kawasan TNBK.

Salah satu yang sedang dicoba digarap adalah pengembangan sektor wisata, dimana masyarakat dapat ikut serta mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata tersebut.

Meanwhile…
Sejenak, pengunjung angkringan Kang Wed menekuk jidat mendengar seriusnya penjelasan dari pemilik angkringan sederhana tadi.

“Oke..oke..” sekarang kita lanjut ke bagian cerita yang light and fun.. ringan dan menyenangkan…
Potensi wisata di TNBK sungguh sangat RuARRRR BIasssaa… beragam keindahan alam baik tumbuhan, landscape maupun satwanya dapat dijumpai disini.
Namun sampai sekarang belum ada satu usaha yang nyata untuk mempromosikan hal tersebut, sehingga potensi yang sedemikian besar itu bagaikan Emas yang terpendam di dasar laut..

Nah, akhir November tahun 2008 yang lalu, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Kalimantan Barat mencoba untuk melakukan kegiatan penyusunan paket wisata tersebut.
Tujuan kali ini adalah di Sungai Embaloh dimana aksesibilitasnya relatif mudah dari Kota Putussibau. Selain sudah adanya jalan darat menuju sungai tersebut, juga dikarenakan kantor Bidang Pengelolaan Wilayah I berada tepat di dekat sungai tersebut. Disana wisatawan dapat menggali informasi lebih dalam tentang potensi wisata di sepanjang jalur yang akan dilalui.

Wisata ini merupakan wisata petualangan dengan waktu 6 hari 5 malam.
Wisatawan akan diajak masuk ke kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan menikmati keindahan alam, landscape dan satwa yang akan ditemui nantinya.

Hari Pertama
Perjalanan dari Putussibau menuju Mataso (tempat Kantor Bidang Wilayah I berada) memakan waktu 3 jam menggunakan kendaraan roda 4.
Setelah beristirahat sejenak wisatawan melanjutkan perjalanan menuju camp Karangan Laboh tempat bermalam di hari pertama hingga hari ke-tiga.


kantor bidang pengelolaan TNBK wilayah I

Perjalanan kali ini menggunakan speedboat 15PK. Penggunaan speedboat dengan daya rendah ini dikarenakan akan melewati beberapa permukaan air yang dangkal, sehingga apabila dipaksakan menggunakan speedboat 40PK, perahu akan kandas dan harus ditarik beberapa kali.


perjalanan menuju camp Karangan Laboh

Selama perjalanan menuju camp Karangan Laboh, wisatawan dapat melihat pemandangan di kiri-kanan perahu yang sangat indah dan masih asli ekosistemnya.
Perjalanan selama 3 jam ini merupakan perkenalan bagi wisatawan akan kondisi hutan di Taman Nasional Betung Kerihun. Tidak jarang ditemukan teriakan klempiau (Hylobates agilis yang bergelantungan di dahan-dahan pohon.

Setelah perjalanan yang cukup mengasyikkan tersebut, wisatawan tiba di camp Karangan Laboh.

Karangan Laboh merupakan tempat dengan bebatuan di pinggir sungai dan sebuah dataran di atasnya, sehingga sesuai apabila digunakan sebagai tempat berkemah dan beristirahat. Letaknya yang tepat di batas kawasan Taman Nasional Betung Kerihun juga merupakan salah satu hal yang ideal, karena wisatawan dapat dengan mudah menuju kawasan TN dengan hanya berjalan kaki.


camp Karangan Laboh

Setelah mendirikan tenda dan beristirahat, pada esok harinya wisatawan dapat mulai exploring kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Continue Reading »