Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘nyambut damel’ Category

Setelah berhasil angkut SPECIALIZED HARDROCK pada medio Oktober 2015, fork bawaannya masih XCT yang sangat tidak memuaskan, apalagi setelah bertahun-tahun pakai XCM di Xtrada 4.0 yang walau tidak bisa dibilang fork hebat, tapi masih ada sensasi peredamannya. Kalau XCT ini benar-benar kayak pakai Fixie, karena tidak ada main-mainnya sama sekali di jalanan yang super rusak sekalipun.

Akhirnya, setelah membolak balik review-review fork, beberapa kesimpulan akhirnya berhasil dikerucutkan dan akhirnya spesifikasi yang disasar adalah sebagai berikut:

  1. Travel 140, karena saya perlu untuk sekali-kali main lumpur di trek yang tidak rata, dan 120 banyak yang bilang sering terlalu rendah untuk semi downhill.
  2. Air fork, karena bisa diadjust kekerasannya dengan hanya menambah / mengurangi tekanan udara
  3. Warna item, wajib.. karena frame warna item juga
  4. Harga tidak lebih dari 2jt

Dengan list tersebut, akhirnya pilihan jatuh ke RST TITAN Air walau banyak juga racun EPICON yang menggoda iman. Dengan niat sebulat bola dan sekeras baja, akhirnya manteb deh pilih RST TITAN, karena harganya lumayan terjangkau untuk sebuah semi serius FORK. Aku tebus fork ini brand new di Majuroyal tangerang seharga 1,8jt belum termasuk Headset yang ternyata setelah dibuka masih pakai yang model baller (gotri) akhirnya diganti sekalian dengan Headset FSA

WhatsApp Image 2016-09-26 at 14.13.08.jpeg

proses penggantian FORK baru (RST Titan Air)

Setelah diganti beberapa kali aku coba untuk adjust tensionnya baik rebound maupun compressionnya. Setelah dirasa pas dan tidak terlalu lembut atau keras, akhirnya diangkut dah ke rumah untuk dicoba di realtrack weekend berikutnya.

Dengan harga 1.8jt overall puas dengan performa fork ini. Redaman kecil dapat dilibas tanpa membuat tangan bergetar, serta dapat juga untuk handling drop-off kecil-kecil bangsa 1 meter-an. Dengan travel 140m, tongkrongan HARDROCK menjadi lebih tinggi dan mendongak, memberi kesan lebih gagah.

So, bagi yang demen ajrut-ajrutan tanpa bikin kantong ikut-ikutan ajrut-ajrutan, saya rekomendasikan fork RST Titan Air ini.

Advertisements

Read Full Post »

specy-hardrock

Ya.. akhirnya ngangkut juga sebuah sepeda (bekas) setelah si Xtrada yang pernah menemani saya dari Kalimantan, Jogja, Bandung dan terakhir Bekas-Jakarta sudah berpindah tangan dikarena diangkut (baca: diangkat orang tanpa permisi) di rumah mertua di Jakarta pada tahun 2014 lalu.

Setelah beberapa saat tidak memiliki sarana untuk gowes, akhirnya rasa kangen untuk kembali merasakan gowesan kaki dan bermandikan peluh kembali harus memaksa untuk mencari pengganti si Xtrada 4.0

Beberapa perhitungan pasca hilangnya si Xtrada, maka sepeda pengganti berikutnya harus memiliki spek yang at least sama atau syukur lebih tinggi dari si Xtrada. Maka beberapa spesifikasi yang diinginkan dengan tetap berpatokan pada harga yang realistis adalah sbb:

  1. Groupset harus selangkah lebih tinggi dari Xtrada 4.0 2010 (Alivio) maka pilihannya adalah Deore atau kakak-kakaknya (Deore LX, SLX, XT atau XTR)
  2. Merk optional bisa merk lokal atau merk import, tidak begitu penting.
  3. Frame juga optional, kalau dapet yang fullsus syukur, dapet Hardtail pun ga masalah karena kebutuhannya hanya untuk weekend ride di sekitar rumah dan itupun kebanyakan crosscountry bukan melibas area gunung apalagi downhill
  4. Harga: tidak mahal-mahal (maks 8-9jt)

Dari beberapa spesifikasi tersebut, dan dari hasil hunting baik sepeda baru maupun 2nd, beberapa yang sempat masuk radar antara lain: Wim Cycle Adrenaline series (AM series), Xtrada 6.0 new 2015 dan beberapa sepeda seperti GT, GIANT dan UNITED. Tapi karena harga rata-rata masih di luar budget, maka dengan sabar aku menanti sampai ada yang pas di hati dan di kantong.

Setelah merenung dan mantengin http://www.bukalapak.com dan situs-situs jual beli sepeda, akhirnya ada satu sepeda yang menarik hati. Dari hasil mantengin bukalapak, ada juga yang iklanin sepeda yang masuk kategori yang dicari. Merknya SPECIALIZED lagi, walau masih seri HARDROCK yang relatif low endnya, tapi speknya sudah lumayan banget dengan Groupset DEORE SLX walau masih seri 2011-2012 tapi gak masalah.

Singkat cerita setelah sambangin penjual di daerah BSD, deal-lah sepeda tersebut dengan harga < 7 juta. Mayan murah untuk spek sekelas itu. Hanya saja waktu beli, forknya masih XCT dan ini target pertama yang harus diupgrade..

Alhamdulillah.. sekarang si Blackie (panggilan si hardrock specialized, menemaniku gowes setiap weekend)

 

Read Full Post »

 

Yaa kesempatan itu akhirnya datang.

Tak henti-hentinya kubersyukur atas karuniaNya yang sedemikian besar sehingga aku bisa dipertemukan dengan negeri kecil nan cantik di salah satu sudut Eropa Barat.

Belanda.

Nama yang sangat kuat terpatri di setiap ingatan penduduk Indonesia. Bukan karena kejunya yang lembut atau susu sapinya yang gurih, tapi lebih pada bagaimana selama hampir setengah abad nama tersebut menaklukkan negara Indonesia dengan tanah airnya dan mengeruk isinya demi kemakmuran penduduknya di Eropa.
Ya, Belanda telah menjajah Indonesia sedemikian lama sehingga walaupun sudah meninggalkan bekas jajahannya selama 67 tahun, peninggalannya pun masih banyak tersisa di Indonesia. Dan harus diakui infrastruktur dan public facilities yang tertinggal pun banyak yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.
Tak heran kalo negeri ini menjadi salah satu negeri termakmur di dunia saat ini dengan tingkat kepuasan penduduk terhadap kotanya yang sedemikian tinggi.

Dan akhirnya, aku pun bisa merasakan bagaimana negeri ini bisa sedemikian maju bahkan sejak ratusan tahun yang lalu. Program S2 Double Degree yang aku ambil sejak satu tahun yang lalulah yang mengantarkanku bisa merasakan atmosfer kesuksesan suatu negara dalam melayani penduduknya.

26 Agustus kuberangkat dari Soekarno-Hatta Int’l Airport jam 19.35 dengan diantar oleh seluruh anggota keluarga termasuk isteri, papa, mama, dede dan ade. Tiba di airport masih sekitar jam 16.00 WIB. Setelah sholat ashar di terminal 2D, kubergegeas checkin bagasi ke counter Malaysia Airlines. Ya, sedikit kecewa kenapa tidak naik Garuda Indonesia saja biar lebih nasionalis. Tapi karena memang semua sudah diatur oleh NESO Indonesia, kami terima beres dan mendapat tiket MAS sebagai pengantar kami study di Holland. Sebelum cekin aku sempatkan dulu untuk menimbang bagasi dengan alat timbangan digital punya temen seperjuangan. Di layar seven-segmen LCD di timbangan tersebut tertera angka 27kg. Amaaan pikirku.

Setelah checkin dan menaikkan koper segede gaban punyaku, ternyata di counter checkin tertera angka 24kg. Wah timbangannya MAS ini agak ‘baikan’ ternyata. Bahkan seorang temen yang bagasinya 31.5kg ternyata setelah ditimbang di counter checkin cuma 29.5kg. Ya jatah free baggage kita memang 30kg/student.

Walaupun sudah diberi extra 10kg(s) dari batas maksimum bagasi standar (20kg) tetap saja banyak yang bawaannya mepet-mepet bahkan lebih dari 30kg. Terpaksa kreatifitas untuk saling nitip kelebihan bagasi ke koper teman yang kuotanya masih ringan terjadilah. Singkat kata kami bisa checkin dan nggak ada yang over baggage. Keren ya.. #apasih

suasana antri bagasi di terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta

Rute penerbangan menuju negeri londo adakah Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam. Kami cuma punya waktu kurang dari satu jam di KL untuk berpindah pesawat. Rute Jakarta-Kuala Lumpur MAS menggunakan armada Boeing 737-800NG persis seperti yang Garuda punya dengan wing tip menjulang. Hanya saja, interior pesawat ini tidak lebih baik dari interior Lion Air 737-900NG dengan kursi kulit biru, walaupun jarak antar seatnya sedikit lebih lega dari JT. Jangan bandingkan dengan interior Garuda yang lebih elegan dan nyaman dengan passenger seat berbahan kain. Singkatnya kita takeoff agak terlambat sekitar 30 menit dari waktu yang tercetak di boarding pass. Maklum hari itu adalah hari puncak arus  mudik sehingga lalu lintas bandara Soetta juga sedemikian padat. Setidaknya yang aku amati pesawat yang kutumpangi ini harus menunggu di short dahulu setelah 3 pesawat Lion Air mendarat berturut-turut. Setelah line-up dengan runway, pesawat dipacu untuk segera mengangkasa menuju KL.

Jam 23.30 waktu KL, atau lebih kurang 2 jam penerbangan CGK-KL pesawat landing dengan mulus di Kuala Lumpur International Airport. Setelah turun dari pesawat, kubergegas masuk terminal kedatangan. Memang harus diakui bandara KL ini sangat bagus penataan, desain dan arsitekturnya. Canggihnya lagi, ada aerotrain sejenis kereta tanpa awak yang mengantar penumpang dari terminal yang satu ke terminal yang lain di bandara tersebut dengan gratis dan cepat. Setelah naik aerotrain, segera kami menuju gate 37 yang ternyata sudah pada antri untuk boarding ke pesawat selanjutnya yang mengantar kita ke Amsterdam. Security Check di Malaysia lumayan ketat. Entah kenapa laptop harus dikeluarkan dari tas. Beruntung aku nggak disuruh untuk ngeluarin.

Pesawat MAS yang mengantar ke Amsterdam kali ini adalah Boeing 777-200 pesawat berbadan lumayan lebar dengan dua alleys (gang) dan memang ditujukan untuk penerbangan jarak jauh. Tidak seperti 738 yang kursinya mirip angkot/bus ekonomi, 772 memiliki kursi yang nyaman, dengan headrest yang bisa disesuaikan dengan bentuk kepala. Selain itu, fasilitas entertainment seperti AVOD (Audio Video On Demand) sebanyak 67 channel plus multimedia, dan onboard GPS pun cukup menghibur penumpang agar nggak mati gaya saat terbang selama 14 jam.nTapi MAS bukan tanpa drawbacks. Menu makanan dan minuman MAS di lidah saya tidak terasa spesial bahkan cenderung tidak terlalu enak. Jauh sekali bila dibandingkan dengan GA yang menunya memang masuk di lidah. Saya coba nasi ayam ternyata bumbunya agak hambar, bubur kambing juga baunya menyengat, kambing buangett.. begitu juga untuk snack-snacknya seperti cracker yang rasanya aneh.

Singkat kata, setelah terbang selama hampir semalaman, jam 6.20 pagi waktu Amsterdam, pesawat mendarat di Schiphol Int’l Airport dengan mulus, bahkan saya nggak merasa kalo pesawat sudah touch ground.

Bandara Schiphol ternyata juga cukup besar walaupun desainnya belum mampu mengalahkan bandara KLIA di Malaysia. Setelah cek imigrasi untuk cap visa, kami pun pergi ke baggage claim untuk mengambil bagasi.
Disini saya sempatkan telpon istri dengan skype to skype yang sudah terinstall di handphone kami masing-masing. Beruntung wifi di Schiphol cukup baik dan kenceng sehingga bisa komunikasi tanpa masalah.
Kelar ambil bagasi, saya dan temen-temen kemudian keluar ke lobby kedatangan buat cari tiket KA ke Groningen. Tiket seharga EU24 tersebut bisa dipakai selama sehari penuh untuk sekali naik. Sebelum turun ke stasiun yang ada di bawah bandara, kami sempatkan foto-foto dulu di halaman depan bandara.
Suhu di Amsterdam saat itu 11 derajat lumayan hangat untuk ukuran orang Eropa, dan cukup dingin untuk ukuran kulit tropis saya haha

Mejeng di depan Bandara Schiphol

Jam 9.20 KA Groningen tiba di stasiun Schiphol. Disini semua transportasi sangat sangat tepat. Kalaupun terlambat atau kecepetan, paling kisaran 1-2 menit an. Hebatnya hampir semua KA dilengkapi dengan wifi gratis, sehingga penumpang bisa dengan nyaman menggunakan internet selama perjalanan.

di dalam kereta api NS (Nederlandse Spoorwegen)

Sekitar jam 12 KA tiba di Stasiun Groningen. Stasiunnya kecil, lebih kecil dari stasiun tugu di jogja dan masih lebih bagus stasiun tugu. Untuk menggunakan WC/toilet di stasiun, penumpang harus bayar sebesar setengah sen kayak di toilet-toilet umum di Indonesia.

Waktu itu rombongan kami dijemput senior-senior kami dari angkatan sebelumnya. Ada mas Hermadi, mas Arief Cirebon, mas Arief Amrullah, mas Ryan Hidayat dan ketua PPI Groningen mas Hengky. Menuju Kornoeljestraat tempat housng kami, bisa ditempuh dengan menggunakan bus kota yang terminalnya terintegrasi dengan stasiun kereta. Bus nomer 5 adalah bus yang mengantar kami menuju tempat tujuan. Tarifnya EU 1.5 dan sopirnya bertindak selaku kondektur sekaligus. Selain mengemudikan bus, dia jugalah yang nerima duit pada saat penumpang antri dengan tertib masuk satu-satu ke bus, memberikan tiket dan men-cap tiket tersebut dengan stempel tertanggal hari dan jam ini. Tiket bisa digunakan lagi selama belum lebih dari 1 jam di bus-bus kota yang lain.

 

 
rempong turun dari bus di depan kos

Nggak jauh perjalanan menggunakan bus, kami tiba di Blue Building tempat kami akan tinggal untuk setahun ke depan.Bangunan ini merupakan International Student Housing berlantai 10 dengan 32 kamar di setiap lantainya. Beruntung, kamar yang aku tempati ini sudah ditinggalkan penghuni sebelumnya dan sudah dirapikan, sehingga siap ditinggali walaupun kontrak tinggal disini baru dimulai tanggal 1 September 2012, masih 5 hari ke depan

Setelah menaruh barang di kamar masing-masing, senior ternyata sudah mempersiapkan jamuan selamat datang untuk adik-adik kelasnya. Cocok banget dengan perut yang mulai melilit setelah makanan yang terhidang terakhir adalah makanan di pesawat tadi malam yang tidak terlalu enak. Menu kali ini adalah tumis wortel, omelette kentang dan jus. Mbak Amanda lah yang meramu bumbu masakan dengan pas ditambah udara dingin Groningen sehingga membuat acara makan-makan kali ini terasa nikmat sekali.

makaan

Yaa.. Welcome to Groningen

Read Full Post »

thanks to BAPPENAS

First February 2011 would be my unforgotten day of my live…

It was Tuesday afternoon when i had a regular meeting with other National Park employees
i still remembered when a strange number rang my new Onyx (little bit narcissistic would be perfect ok?) in the middle of the meeting, luckily i set the tone to silent mode. Even though, i had a task to record all the processes happened in the meeting, should i answer the phone while i was typing? do i looks like a four handed monster??
well i did ignore the call btw and the meeting goes on..
Meanwhile… came the breaktime .. then… unintendedly i searched the google for the phone number i have rejected recently.

How shocked i was, because google’s screen showed a similar number with the ITB (Institut Teknologi Bandung) phone-line and i rejected it as i did to almost all unknown callers.
As soon as possible i reached my cellphone and made a call to that number but… only a fax machine’s tone i heard.

Furthermore i did a deeper search to the phone number i’ve found that it belongs to Master of Urban Planning Study Program. Thanks to Mr.Google. Finally i found another number which was not a fax machine.
After made a call, the long awaiting good news finally came.. yess i’ve been granted for a scholarship from Bappenas and luckily i’ve been accepted in ITB university in Bandung + University in Netherland.
Alhamdulillah…

After talked with my superiors and they allowed and encouraged me to take the chance, i prepared all things needed for the scholarship. Ten days later (11/3 2011) i leaved Putussibau for a long time to go to a new city called Bandung -my previous dream city to lived in- where my new task as a student began. Before i went from Putussibau, i sold some items that hard to be carried on. My computer rig, speakers, etc are sold to my colleagues. Lucky to them who bought my stuffs due to its low prices (TBH i needed money also :p).

And…

Here i am… Living in a new city called Bandung. A city that used to be my dream place to study if only i accepted in STT Telkom about 13 years ago. God always has a way to grant the prayers…
Now i enjoys much for living in Bandung than my previous city (Putussibau).
Many things are almost a half priced here, especially the foods and clothes..
And … a lot of good loking girls also (undeniable……. haha) hopefully can get one of them :p
Hmm… almost forgot, why i wrote this post in English rather in Bahasa?
Yup right!!
I did it to practice my writing due to IELTS course i’ve attended.
6.5 is the minimum score i have to achieve in order to be accepted in Holland’s University, otherwise i should finish all my two years in ITB, hmm… i don’t think so.

Okay..
Looks like i have wrote in adequate words (150 minimum :p how economic i am :p )
next..
things interesting in Bandung

00:34 16th March 2011
early morning…
Kanayakan 2

edited : 3th July in JOG
PS : VERSI BAHASA INDONESIAnya GUGEL

Read Full Post »

Yaa…

kode perbangan Lionair menggunakan kode JT. Banyak yang memplesetkan menjadi sebuah akronim yang artinya Jelas Telat…
Tuliasan ini saya buat di ruang tunggu A2 Bandara Soekarno-Hatta karena delay yang sangat lama (3 jam) dari pesawat yang sekiranya akan membawa saya ke Pontianak.
Pesawat yang semestinya takeoff pada pukul 15.00, didelay menjadi pukul 17.00 WTF!
*edited : delay ditambah lagi 2 jam lebih, jadi total hampir 6 jam delay!! Akhirnya saya baru terbang pukul 19.45 dan landing di Pontianak pukul 21.30*

Delay ini tidak terjadi pada penerbangan ini saja, melainkan pada penerbangan-penerbangan Lionair lainnya.
Hal ini menjadikan ruang tunggu di semua terminal menjadi penuh sesak dan wajah-wajah yang emosional.

Delay seperti ini tidak terjadi sekali pada hari ini saja melainkan sering sekali terjadi khususnya Lion air.
Kenapa saya menyimpulkan demikian?
2 Minggu terakhir saya wira-wiri menggunakan beberapa penerbangan salah satunya Lion Air ini.
Dari sekian penerbangan tersebut, 3 flight menggunakan JT, dan coba anda tebak, tiga-tiganya DELAYED semua!!

Variasi delay pun berbeda-beda antara 10 menit hingga 3 jam seperti hari ini.

Alasan cuaca sama sekali tidak bisa digunakan sebagai dasar.
Sebagai seorang pilot saya setidaknya tahu persis mana cuaca yang bagus dan cuaca yang jelek, mana cuaca yang safe untuk terbang dan mana cuaca yang tidak safe untuk terbang.

Dan hari ini, cuaca sangat-sangat bagus dengan wind calm dan langit biru.
Cuaca yang sangat-sangat safe bahkan untuk sebuah pesawat trike yang biasa saya awaki yang notabene membutuhkan cuaca yang benar-benar clear and smooth untuk menerbangkannya.

Terlepas dari itu semua, Lionair merupakan salah satu (satu-satunya) airline yang memberikan kemudahan dalam hal pemesanan tiket secara online. Hampir tidak ada satu airline pun yang mampu menyaingi user friendliness dari sebuah ticketing engine milik Lionair.
Hal tersebut yang memicu saya untuk sering menggunakan airline ini. Disamping kemudahan dalam hal booking dan issued ticket, juga kemudahan membayar melalui e-banking dan ATM tidak semudah ditemui pada airline lain. Tercatat hanya Mandala yang memberikan kemudahan serupa, sedangkan maskapai lainnya belum sepenuhnya memberikan kebebasan pengguna dalam memesan tiket.

Namun, terhitung per hari ini saya akan berpikir 1000 kali untuk menggunakan Lionair lagi, walaupun dengan segala kemudahannya namun kebiasaan jelek yang suka delay ini memupus semua sanjungan saya terhadap Lion Air.
(more…)

Read Full Post »

null

Medio awal 2010, pesawat trike milik Taman Nasional Betung Kerihun dioperasikan kembali.
Setelah istirahat cukup lama setelah kegiatan pelatihan lanjutan bulan Oktober – November, kemudian disusul musim hujan di akhir tahun, baru kali inilah pesawat trike dengan nomor registrasi PK-S 158 dioperasikan kembali.

Kali ini tidak hanya joyflight atau terbang di sekitar kota dengan jarak yang dekat, namun akan dioperasikan untuk medium – long XC (Cross Country) yang bertujuan untuk melakukan perintisan jalur terbang.
Sebelumnya seperti yang sudah ditulis disini pesawat ini telah teruji untuk XC dengan jarak cukup jauh (sekitar 200km).

Target XC kali ini adalah : Resort Nanga Hovat dan Resort Nanga Potan + Seksi Tanjung Kerja.

Resort merupakan kantor setingkat di bawah seksi yang brefungsi untuk pengamanan kawasan Taman Nasional dan terletak tidak jauh dari batas-batas Taman Nasional.
Karena kawasan Taman Nasional Betung Kerihun satu-satunya akses darat adalah melalui sungai. maka resort-resort TNBK ditempatkan di desa-desa terakhir sebelum kawasan Taman Nasional dan pada umumnya berlokasi di tepi sungai.

Karena jauhnya jarak dua target tersebut, maka penerbangan akan dilakukan 2 (dua) session.

Resort Nanga Hovat
Sesi pertama adalah menuju Nanga Hovat. Sebuah desa di hulu sungai Mendalam dengan jarak lebih kurang 30 km dari airbase Bandara Pangsuma Putussibau.
Jarak yang cukup dekat tersebut apabila ditempuh dengan mengikuti sungai Mendalam membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan.
Lokasi resort Nanga Hovat dapat dilihat dari peta sebagai berikut :

Waypoint : Resort Nanga Hovat

Cuaca sore 4 Februari 2010 waktu itu cukup baik, sehingga setelah semua dipersiapkan segeralah dilakukan pre flight checking untuk memastikan semua dalam kondisi yang bagus.
GPS telah diset, radio dalam kondisi full charged, dan semua instrumen telah dipastikan dalam kondisi yang baik. Wing dan wheel juga tak luput dari inspeksi sebelum terbang. Mesin, radiator busi dan karbu juga tak luput dari pengecekan.
Setelah dipastikan semua dalam kondisi laik terbang, maka perjalanan crosscountry pun dimulai.
Airbase kami adalah bandara Pangsuma Putussibau.
Bandara ini memiliki runway 10 dan 28 (one zero dan two eight). Penamaan runway ini mengacu pada arah mata angin runway, dimana runway 10 merupakan arah mata angin 100° dan runway 28 merupakan arah mata angin 280°.
Hangar yang kami miliki masih sangat sederhana dengan hanya menggunakan dinding dan atap seng seperti berikut :

null

Walaupun sederhana, namun tidak mengurangi fungsinya sebagai tempat penyimpanan pesawat trike. Kedepan, akan dikembangkan lebih baik lagi agar pesawat dapat terlindungi dengan sempurna.
Setelah takeoff, pemandangan di atas sungguh sangat menakjubkan, bahkan bagi saya sebagai seorang penerbang yang sering terbang di Pangsuma Aerodrome, setiap takeoff selalu memberikan pengalaman tersendiri dengan pemandangan yang berbeda-beda.

null
(more…)

Read Full Post »

null

Pengunjung angkringan Kang Wed kali ini berkumpul di angkringan yang lokasinya mepet pinggir rel antara stasiun Solo Balapan dan stasiun Tugu Yogyakarta.
Sembari membaca koran “KR” (Kedaulatan Rakyat : red) mereka dikisahkan oleh Kang Wed tentang sebuah tempat di Indonesia yang masih indah dan memiliki daya tartik besar bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Tempat tersebut terletak di sebuah Taman Nasional di wilayah pedalaman Kalimantan. Nama Taman Nasional itu adalah TN Betung Kerihun.
TN Betung Kerihun merupakan Taman Nasional yang memiliki luas 800.000 hektar. Dinamakan Betung Kerihun karena terdapat dua bukit tinggi yaitu Bukit (gunung) Betung di daerah Barat dan gunung Kerihun di daerah Timur.
Posisi Taman Nasional tepat di daerah perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Posisi yang strategis sekaligus memnberikan ancaman besar terhadap kelestarian ekosistem di Taman Nasional ini.
Secara administratif, Taman Nasional Betung Kerihun yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat dan merupakan salah satu wilayah konservasi yang relatif masih terjaga keasrian dan kelestarian ekosistemnya.

Walaupun dulu pernah terkena dampak illegal logging, namun sejak penertiban besar-besaran oleh gabungan TNI/Polri dan Polisi Kehutanan Dephut pada tahun 2004, praktis kegiatan illegal logging menurun drastis aktivitasnya, bahkan hampir mendekati 0. Namun demikian illegal logging kecil-kecilan tetap saja terjadi, terutama dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan yang mengambil kayu untuk kebutuhan pembuatan pondok, rumah dan kebutuhan perkakas sehari-hari.
Hal inilah yang sampai sekarang masih ditangani oleh pihak TN Betung Kerihun dengan berbagai pendekatan dan pemberdayaan masyarakat sebagai alternatif pendapatan daripada harus masuk ke kawasan TNBK.

Salah satu yang sedang dicoba digarap adalah pengembangan sektor wisata, dimana masyarakat dapat ikut serta mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata tersebut.

Meanwhile…
Sejenak, pengunjung angkringan Kang Wed menekuk jidat mendengar seriusnya penjelasan dari pemilik angkringan sederhana tadi.

“Oke..oke..” sekarang kita lanjut ke bagian cerita yang light and fun.. ringan dan menyenangkan…
Potensi wisata di TNBK sungguh sangat RuARRRR BIasssaa… beragam keindahan alam baik tumbuhan, landscape maupun satwanya dapat dijumpai disini.
Namun sampai sekarang belum ada satu usaha yang nyata untuk mempromosikan hal tersebut, sehingga potensi yang sedemikian besar itu bagaikan Emas yang terpendam di dasar laut..

Nah, akhir November tahun 2008 yang lalu, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Kalimantan Barat mencoba untuk melakukan kegiatan penyusunan paket wisata tersebut.
Tujuan kali ini adalah di Sungai Embaloh dimana aksesibilitasnya relatif mudah dari Kota Putussibau. Selain sudah adanya jalan darat menuju sungai tersebut, juga dikarenakan kantor Bidang Pengelolaan Wilayah I berada tepat di dekat sungai tersebut. Disana wisatawan dapat menggali informasi lebih dalam tentang potensi wisata di sepanjang jalur yang akan dilalui.

Wisata ini merupakan wisata petualangan dengan waktu 6 hari 5 malam.
Wisatawan akan diajak masuk ke kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan menikmati keindahan alam, landscape dan satwa yang akan ditemui nantinya.

Hari Pertama
Perjalanan dari Putussibau menuju Mataso (tempat Kantor Bidang Wilayah I berada) memakan waktu 3 jam menggunakan kendaraan roda 4.
Setelah beristirahat sejenak wisatawan melanjutkan perjalanan menuju camp Karangan Laboh tempat bermalam di hari pertama hingga hari ke-tiga.


kantor bidang pengelolaan TNBK wilayah I

Perjalanan kali ini menggunakan speedboat 15PK. Penggunaan speedboat dengan daya rendah ini dikarenakan akan melewati beberapa permukaan air yang dangkal, sehingga apabila dipaksakan menggunakan speedboat 40PK, perahu akan kandas dan harus ditarik beberapa kali.


perjalanan menuju camp Karangan Laboh

Selama perjalanan menuju camp Karangan Laboh, wisatawan dapat melihat pemandangan di kiri-kanan perahu yang sangat indah dan masih asli ekosistemnya.
Perjalanan selama 3 jam ini merupakan perkenalan bagi wisatawan akan kondisi hutan di Taman Nasional Betung Kerihun. Tidak jarang ditemukan teriakan klempiau (Hylobates agilis yang bergelantungan di dahan-dahan pohon.

Setelah perjalanan yang cukup mengasyikkan tersebut, wisatawan tiba di camp Karangan Laboh.

Karangan Laboh merupakan tempat dengan bebatuan di pinggir sungai dan sebuah dataran di atasnya, sehingga sesuai apabila digunakan sebagai tempat berkemah dan beristirahat. Letaknya yang tepat di batas kawasan Taman Nasional Betung Kerihun juga merupakan salah satu hal yang ideal, karena wisatawan dapat dengan mudah menuju kawasan TN dengan hanya berjalan kaki.


camp Karangan Laboh

Setelah mendirikan tenda dan beristirahat, pada esok harinya wisatawan dapat mulai exploring kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. (more…)

Read Full Post »

Older Posts »