Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘dedolanan’ Category

specy-hardrock

Ya.. akhirnya ngangkut juga sebuah sepeda (bekas) setelah si Xtrada yang pernah menemani saya dari Kalimantan, Jogja, Bandung dan terakhir Bekas-Jakarta sudah berpindah tangan dikarena diangkut (baca: diangkat orang tanpa permisi) di rumah mertua di Jakarta pada tahun 2014 lalu.

Setelah beberapa saat tidak memiliki sarana untuk gowes, akhirnya rasa kangen untuk kembali merasakan gowesan kaki dan bermandikan peluh kembali harus memaksa untuk mencari pengganti si Xtrada 4.0

Beberapa perhitungan pasca hilangnya si Xtrada, maka sepeda pengganti berikutnya harus memiliki spek yang at least sama atau syukur lebih tinggi dari si Xtrada. Maka beberapa spesifikasi yang diinginkan dengan tetap berpatokan pada harga yang realistis adalah sbb:

  1. Groupset harus selangkah lebih tinggi dari Xtrada 4.0 2010 (Alivio) maka pilihannya adalah Deore atau kakak-kakaknya (Deore LX, SLX, XT atau XTR)
  2. Merk optional bisa merk lokal atau merk import, tidak begitu penting.
  3. Frame juga optional, kalau dapet yang fullsus syukur, dapet Hardtail pun ga masalah karena kebutuhannya hanya untuk weekend ride di sekitar rumah dan itupun kebanyakan crosscountry bukan melibas area gunung apalagi downhill
  4. Harga: tidak mahal-mahal (maks 8-9jt)

Dari beberapa spesifikasi tersebut, dan dari hasil hunting baik sepeda baru maupun 2nd, beberapa yang sempat masuk radar antara lain: Wim Cycle Adrenaline series (AM series), Xtrada 6.0 new 2015 dan beberapa sepeda seperti GT, GIANT dan UNITED. Tapi karena harga rata-rata masih di luar budget, maka dengan sabar aku menanti sampai ada yang pas di hati dan di kantong.

Setelah merenung dan mantengin http://www.bukalapak.com dan situs-situs jual beli sepeda, akhirnya ada satu sepeda yang menarik hati. Dari hasil mantengin bukalapak, ada juga yang iklanin sepeda yang masuk kategori yang dicari. Merknya SPECIALIZED lagi, walau masih seri HARDROCK yang relatif low endnya, tapi speknya sudah lumayan banget dengan Groupset DEORE SLX walau masih seri 2011-2012 tapi gak masalah.

Singkat cerita setelah sambangin penjual di daerah BSD, deal-lah sepeda tersebut dengan harga < 7 juta. Mayan murah untuk spek sekelas itu. Hanya saja waktu beli, forknya masih XCT dan ini target pertama yang harus diupgrade..

Alhamdulillah.. sekarang si Blackie (panggilan si hardrock specialized, menemaniku gowes setiap weekend)

 

Advertisements

Read Full Post »

 

Yaa kesempatan itu akhirnya datang.

Tak henti-hentinya kubersyukur atas karuniaNya yang sedemikian besar sehingga aku bisa dipertemukan dengan negeri kecil nan cantik di salah satu sudut Eropa Barat.

Belanda.

Nama yang sangat kuat terpatri di setiap ingatan penduduk Indonesia. Bukan karena kejunya yang lembut atau susu sapinya yang gurih, tapi lebih pada bagaimana selama hampir setengah abad nama tersebut menaklukkan negara Indonesia dengan tanah airnya dan mengeruk isinya demi kemakmuran penduduknya di Eropa.
Ya, Belanda telah menjajah Indonesia sedemikian lama sehingga walaupun sudah meninggalkan bekas jajahannya selama 67 tahun, peninggalannya pun masih banyak tersisa di Indonesia. Dan harus diakui infrastruktur dan public facilities yang tertinggal pun banyak yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.
Tak heran kalo negeri ini menjadi salah satu negeri termakmur di dunia saat ini dengan tingkat kepuasan penduduk terhadap kotanya yang sedemikian tinggi.

Dan akhirnya, aku pun bisa merasakan bagaimana negeri ini bisa sedemikian maju bahkan sejak ratusan tahun yang lalu. Program S2 Double Degree yang aku ambil sejak satu tahun yang lalulah yang mengantarkanku bisa merasakan atmosfer kesuksesan suatu negara dalam melayani penduduknya.

26 Agustus kuberangkat dari Soekarno-Hatta Int’l Airport jam 19.35 dengan diantar oleh seluruh anggota keluarga termasuk isteri, papa, mama, dede dan ade. Tiba di airport masih sekitar jam 16.00 WIB. Setelah sholat ashar di terminal 2D, kubergegeas checkin bagasi ke counter Malaysia Airlines. Ya, sedikit kecewa kenapa tidak naik Garuda Indonesia saja biar lebih nasionalis. Tapi karena memang semua sudah diatur oleh NESO Indonesia, kami terima beres dan mendapat tiket MAS sebagai pengantar kami study di Holland. Sebelum cekin aku sempatkan dulu untuk menimbang bagasi dengan alat timbangan digital punya temen seperjuangan. Di layar seven-segmen LCD di timbangan tersebut tertera angka 27kg. Amaaan pikirku.

Setelah checkin dan menaikkan koper segede gaban punyaku, ternyata di counter checkin tertera angka 24kg. Wah timbangannya MAS ini agak ‘baikan’ ternyata. Bahkan seorang temen yang bagasinya 31.5kg ternyata setelah ditimbang di counter checkin cuma 29.5kg. Ya jatah free baggage kita memang 30kg/student.

Walaupun sudah diberi extra 10kg(s) dari batas maksimum bagasi standar (20kg) tetap saja banyak yang bawaannya mepet-mepet bahkan lebih dari 30kg. Terpaksa kreatifitas untuk saling nitip kelebihan bagasi ke koper teman yang kuotanya masih ringan terjadilah. Singkat kata kami bisa checkin dan nggak ada yang over baggage. Keren ya.. #apasih

suasana antri bagasi di terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta

Rute penerbangan menuju negeri londo adakah Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam. Kami cuma punya waktu kurang dari satu jam di KL untuk berpindah pesawat. Rute Jakarta-Kuala Lumpur MAS menggunakan armada Boeing 737-800NG persis seperti yang Garuda punya dengan wing tip menjulang. Hanya saja, interior pesawat ini tidak lebih baik dari interior Lion Air 737-900NG dengan kursi kulit biru, walaupun jarak antar seatnya sedikit lebih lega dari JT. Jangan bandingkan dengan interior Garuda yang lebih elegan dan nyaman dengan passenger seat berbahan kain. Singkatnya kita takeoff agak terlambat sekitar 30 menit dari waktu yang tercetak di boarding pass. Maklum hari itu adalah hari puncak arus  mudik sehingga lalu lintas bandara Soetta juga sedemikian padat. Setidaknya yang aku amati pesawat yang kutumpangi ini harus menunggu di short dahulu setelah 3 pesawat Lion Air mendarat berturut-turut. Setelah line-up dengan runway, pesawat dipacu untuk segera mengangkasa menuju KL.

Jam 23.30 waktu KL, atau lebih kurang 2 jam penerbangan CGK-KL pesawat landing dengan mulus di Kuala Lumpur International Airport. Setelah turun dari pesawat, kubergegas masuk terminal kedatangan. Memang harus diakui bandara KL ini sangat bagus penataan, desain dan arsitekturnya. Canggihnya lagi, ada aerotrain sejenis kereta tanpa awak yang mengantar penumpang dari terminal yang satu ke terminal yang lain di bandara tersebut dengan gratis dan cepat. Setelah naik aerotrain, segera kami menuju gate 37 yang ternyata sudah pada antri untuk boarding ke pesawat selanjutnya yang mengantar kita ke Amsterdam. Security Check di Malaysia lumayan ketat. Entah kenapa laptop harus dikeluarkan dari tas. Beruntung aku nggak disuruh untuk ngeluarin.

Pesawat MAS yang mengantar ke Amsterdam kali ini adalah Boeing 777-200 pesawat berbadan lumayan lebar dengan dua alleys (gang) dan memang ditujukan untuk penerbangan jarak jauh. Tidak seperti 738 yang kursinya mirip angkot/bus ekonomi, 772 memiliki kursi yang nyaman, dengan headrest yang bisa disesuaikan dengan bentuk kepala. Selain itu, fasilitas entertainment seperti AVOD (Audio Video On Demand) sebanyak 67 channel plus multimedia, dan onboard GPS pun cukup menghibur penumpang agar nggak mati gaya saat terbang selama 14 jam.nTapi MAS bukan tanpa drawbacks. Menu makanan dan minuman MAS di lidah saya tidak terasa spesial bahkan cenderung tidak terlalu enak. Jauh sekali bila dibandingkan dengan GA yang menunya memang masuk di lidah. Saya coba nasi ayam ternyata bumbunya agak hambar, bubur kambing juga baunya menyengat, kambing buangett.. begitu juga untuk snack-snacknya seperti cracker yang rasanya aneh.

Singkat kata, setelah terbang selama hampir semalaman, jam 6.20 pagi waktu Amsterdam, pesawat mendarat di Schiphol Int’l Airport dengan mulus, bahkan saya nggak merasa kalo pesawat sudah touch ground.

Bandara Schiphol ternyata juga cukup besar walaupun desainnya belum mampu mengalahkan bandara KLIA di Malaysia. Setelah cek imigrasi untuk cap visa, kami pun pergi ke baggage claim untuk mengambil bagasi.
Disini saya sempatkan telpon istri dengan skype to skype yang sudah terinstall di handphone kami masing-masing. Beruntung wifi di Schiphol cukup baik dan kenceng sehingga bisa komunikasi tanpa masalah.
Kelar ambil bagasi, saya dan temen-temen kemudian keluar ke lobby kedatangan buat cari tiket KA ke Groningen. Tiket seharga EU24 tersebut bisa dipakai selama sehari penuh untuk sekali naik. Sebelum turun ke stasiun yang ada di bawah bandara, kami sempatkan foto-foto dulu di halaman depan bandara.
Suhu di Amsterdam saat itu 11 derajat lumayan hangat untuk ukuran orang Eropa, dan cukup dingin untuk ukuran kulit tropis saya haha

Mejeng di depan Bandara Schiphol

Jam 9.20 KA Groningen tiba di stasiun Schiphol. Disini semua transportasi sangat sangat tepat. Kalaupun terlambat atau kecepetan, paling kisaran 1-2 menit an. Hebatnya hampir semua KA dilengkapi dengan wifi gratis, sehingga penumpang bisa dengan nyaman menggunakan internet selama perjalanan.

di dalam kereta api NS (Nederlandse Spoorwegen)

Sekitar jam 12 KA tiba di Stasiun Groningen. Stasiunnya kecil, lebih kecil dari stasiun tugu di jogja dan masih lebih bagus stasiun tugu. Untuk menggunakan WC/toilet di stasiun, penumpang harus bayar sebesar setengah sen kayak di toilet-toilet umum di Indonesia.

Waktu itu rombongan kami dijemput senior-senior kami dari angkatan sebelumnya. Ada mas Hermadi, mas Arief Cirebon, mas Arief Amrullah, mas Ryan Hidayat dan ketua PPI Groningen mas Hengky. Menuju Kornoeljestraat tempat housng kami, bisa ditempuh dengan menggunakan bus kota yang terminalnya terintegrasi dengan stasiun kereta. Bus nomer 5 adalah bus yang mengantar kami menuju tempat tujuan. Tarifnya EU 1.5 dan sopirnya bertindak selaku kondektur sekaligus. Selain mengemudikan bus, dia jugalah yang nerima duit pada saat penumpang antri dengan tertib masuk satu-satu ke bus, memberikan tiket dan men-cap tiket tersebut dengan stempel tertanggal hari dan jam ini. Tiket bisa digunakan lagi selama belum lebih dari 1 jam di bus-bus kota yang lain.

 

 
rempong turun dari bus di depan kos

Nggak jauh perjalanan menggunakan bus, kami tiba di Blue Building tempat kami akan tinggal untuk setahun ke depan.Bangunan ini merupakan International Student Housing berlantai 10 dengan 32 kamar di setiap lantainya. Beruntung, kamar yang aku tempati ini sudah ditinggalkan penghuni sebelumnya dan sudah dirapikan, sehingga siap ditinggali walaupun kontrak tinggal disini baru dimulai tanggal 1 September 2012, masih 5 hari ke depan

Setelah menaruh barang di kamar masing-masing, senior ternyata sudah mempersiapkan jamuan selamat datang untuk adik-adik kelasnya. Cocok banget dengan perut yang mulai melilit setelah makanan yang terhidang terakhir adalah makanan di pesawat tadi malam yang tidak terlalu enak. Menu kali ini adalah tumis wortel, omelette kentang dan jus. Mbak Amanda lah yang meramu bumbu masakan dengan pas ditambah udara dingin Groningen sehingga membuat acara makan-makan kali ini terasa nikmat sekali.

makaan

Yaa.. Welcome to Groningen

Read Full Post »

Hehe.. Salam Lestari..

Edisi angkringan kali ini kembali ke tema bersepeda. Sudah beberapa lama Kang Wed tidak membuat goweser story, terutama sejak pindah ke Bandung, padahal kegiatan gowes di Bandung lebih banyak (baca: kalori yang terbakar) daripada di Kalimantan dahulu. Maklum saja, disamping waktu yang lebih padat dan kegiatan yang lebih banyak di Bandung, serta sisa energi untuk membuat tulisan juga tipis, akhirnya baru kali ini tulisan ini bisa dirilis ke para pembaca semua.

 

Well, medan gowes di Bandung sangat berbeda dibandingkan dengan medan di Kalimantan.

Di Kalimantan, kita masih bisa bersuka ria dan merasa belum capek walaupun sudah menempuh jarak lebih dari 50 km. Berbeda dengan di Bandung, terutama Bandung Utara, dengan gowes sejauh 10-an km saja, tingkat kecapekan kita sama atau bahkan melebihi gowes di Kalimantan sejauh 50km. Kenapa?

Topografi di Bandung yang cenderung berbukit-bukit dengan tingkat tanjakan dari landai sampai dengan extreme terbukti nyata menyumbang dalam peningkatan tingkat capek goweser. Tanjakan dengan kemiringan 30-45 derajat bukanlah hal yang aneh di Bandung, sementara itu, tanjakan 10 derajat di Kalimantan merupakan hal yang langka. Betul memang topografi di Kalimantan juga banyak tanjakan dan bukit-bukit, tapi tidak setinggi dan se-panjang tanjakan di Bandung.

Begitu juga rute gowes kali ini,

Destination : WARBAN (Warung Bandrek) Babe di daerah di atas Dago Pakar
(more…)

Read Full Post »

Aha… pengunjung angkringan kang Wed kali ini mendapatkan cerita lagi
Melanjutkan cerita sepedahan yang pertama di sini, kali ini cerita itu pun berlanjut………

Efek dari racun baru berupa sepeda ternyata tidak mudah hilang begitu saja. Setelah ditinggal mudik ke kampung halaman di Jogja, ternyata teman-teman di Kalimantan tidak meninggalkan aktivitas bersepeda begitu saja, justru mereka sekarang mulai menjelajahi tempat-tempat wisata lokal di Putussibau (Kalimantan Barat) dengan menggunakan sepeda. Terinspirasi dari foto-foto facebook teman-teman waktu gowes ke danau bika, akhirnya setelah balik lagi ke Kalimantan Cross Country ke – dua dengan sepeda pun harus segera digelar hahaha….

Setelah berdiskusi dengan rekan goweser serumah (Arif dan Arif) Kebetulan mereka berdua namanya sama, diputuskanlah rute baru cross country kali ini menuju Tanjung Karang kemudian menyeberang ke Kedamin (see map).


peta harta karun… eh peta gowes kali ini
(more…)

Read Full Post »

null

Pelan tapi pasti, akhirnya racun baru datang juga ke jantung Borneo.
sebenarnya racun baru benar-benar bekerja setelah setiap hari selalu menyambangi 2 url racun sebagai berikut :

1. SEPEDAKU
2. KASKUS SUBFORUM SEPEDA

Pertama kali melirik sepeda, waktu liat foto2 temen di facebook pada mulai gila sepeda, akhirnya pengen juga ikut hobi gowes tersebut.
Secara tidak terlalu mahal dan tidak butuh skill yang spesial. Tapi ternyata… harga sepeda sekarang udah gila-gila an, yah maklum terakhir kali beli sepeda udah jaman SMP dahulu (sekitar tahun 1991) hihihi dimana harga sepeda Federal saya waktu itu cuma sekitar 150rb

Setelah baca-baca forum tersebut rata-rata sepeda yang recommended harganya di atas 2 juta rupiah, bahkan banyak yang rekomendasi sekitar 4-5 juta rupiah…
Wow..sebuah angka yang fantastis apalagi untuk sebuah kuli rakyat rendahan seperti saya ini.

Namun setelah berpikir 1,2,3 dan ratusan kali, betapa hanya untuk sebuah sepeda yang nyata-nyata bisa meningkatkan kesehatan, kita berat hati untuk membeli, sedangkan untuk sebuah handphone atau PC kita rela merogoh kocek yang jauh lebih dalam walaupun kadang penggunaannya hanya untuk bersenang-senang saja dan sedikitttt untuk bekerja.

Setelah mengalami fase sakaw (bahasamu kang..kang…) , dimana ada sesuatu yang kurang kalau belum baca 2 forum di atas, akhirnya saya berkesimpulan untuk membeli SEPEDA!

Ya ide ini muncul setelah 1 bulan saya dengan rutin menyambangi kedua forum online tersebut.
Setelah menetapkan hati untuk memiliki sebuah sepeda, timbul kebimbangan antara merakit dan membeli sepeda jadi atau istilahnya full bike.
Pilihan merakit sangat menggoda saya dan saya hampir saja memilih metode ini. Namun sayang karena lokasi saya jauh dari tempat yang berjualan spare parts sepeda mid-highend, keinginan ini pun lama-lama pudar karena ada keinginan yang jauh lebih kuat yaitu segera memiliki sepeda.

Pada awalnya, saya ingin merakit sepeda dengan spek sebagai berikut (sengaja saya tulis biar jadi kenang-kenangan + siapa tau suatu saat akan kesampaian juga ngerakit hehehe) :

Frame : United Nucleus / Dominate / Patrol AMP
RD + FD : Shimano Deore 27sp
Crank : Shimano HT II
Fork : RST Omega 2010 atau RS Epicon
Hub + Freehub : Shimano M475
Handle bar + stem : Amoeba Borla
Rims : Alexrims EN24
Ban : Maxiss Advantage
Shifter : Shimano Deore
Brake : Tektro Auriga

tapi setelah dihitung-hitung abisnya sekitar 4-5 juta an
Sebenernya bukan ini masalah utamanya (cieee… gayamu wed wed), tapi lebih ke nggak sabarnya segera gowes yang menyebabkan saya akhirnya (dengan agak berat hati) memutuskan untuk membeli fullbike.
Apalagi rekan sekantor saya juga udah mulai ngebet bike 2 work padahal saya lah sang peracun pertama. Malu donk kalo dia udah beli sedangkan saya masih naik motor ke kantor wkwkwk.

Akhirnya, perburuan fullbike pun dimulai.

Pertama kali sempat pengen beli Polygon Cozmic 2.0 tapi sayang susah mendapatkan sepeda tersebut di Pontianak sekalipun.
Akhirnya pilihan jatuh ke XTRADA 4.0 yang kebetulan aja ada, padahal di Jawa sepeda yang termasuk best sellernya Polygon (selain seri Premier) ini rata-rata kosing dimana-mana.

Kenapa saya milih XTRADA 4.0?

Pertama : harga sepeda ini walaupun tidak murah, tapi kalau dibanding merakit bisa setara dengan sepeda 4 juta-an.
Kedua : Sepeda ini sudah menggunakan double disc brake dan fork yang cukup bagus serta RD dan FD yang “lumayan” (Alivio)
Ketiga : Tampilannya ora ngisin-isini orang jawa bilang (tampilannya gak malu-maluin) dan cukup keren

Setelah memastikan stok sepeda ini available di Pontianak, berkat bantuan rekan saya yang tugas di sana, dikirimlah sepeda ini ke Putussibau.
Sehari… dua hari.. tiga harii.. sepeda yang dinanti belum juga tiba. Akhirnya genap 4 hari sepeda datang diantar truk kargo.
Berbarengan dengan sepeda ini, ada 1 sepeda lagi pesenan temen saya (Polygon Broadway)

null
(more…)

Read Full Post »

Kali ini, beberapa pengunjung Angkringan Kang Wed dibuat terkesima.

Bukan karena nyamlengnya wedang SUJAH (Susu Jahe) yang disruput sedikit dan bikin “kemepyar”. Bukan pula dikarenakan bakaran tempe mendoan yang pas dilidah, tidak gosong tidak pula mentah… jan kemripik dan cemowel. Dan dipastikan bukan karena bungkusan sego kucing yang pulen dengan hiasan kering tempe maupun sambal teri yang membuat sang lidah menari-nari.

Akan tetapi.. malam itu, bukan hanya mulut dan perut yang dimanjakan. Namun salah satu panca indera yang lain pun ikut serta merasakan pulennya suara Jheenna Lodwick, Heather Headlay maupun nyonyornya bibir Jason M’raz yang serasa konser di depan mata para sederek pengunjung Angkringan Kang Wed.

Tidak seperti biasanya pengunjung Angkringan Tampak diam menghayati setiap nada yang dilantunkan para penyanyi kelas atas tersebut. Sesekali sambil “umik-umik” mulut mereka menirukan lontaran syair dari speaker butut di pojok-pojok angkringan. Tak jarang pula kaki mereka mengetuk ke tanah setiap kali iringan instrumen berkumandang. Sungguh pemandangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sampai suatu saat, seseorang bertanya : “Wah kok nyamleng tenang suarane saiki kang?” (ind : Wah kok mantap bener suaranya sekarang kang?). Sang pemilik angkringan pun hanya tersenyum-senyum dengan simpulnya yang khas.

Rahasia apakah hingga sang pengunjung bisa terhipnotis sedemikan rupa? Simak saja flashback berikut :

Awal bulan Mei ini, salah satu teman saya Hendri a.k.a. penpinzzz mengirimkan sebuah soudcard external keluaran Behringer. Sungguh sangat beruntung bisa mendapatkan soundcard ini, karena disamping langka untuk mencarinya, barang ini juga termasuk best bang for bucks (price performance nya manstap) Soudcard ini merupakan soundcard khusus untuk musik. Kang Wed sendiri belum begitu lama mendengar tentang keberadaan soundcard ini. Namun harapan untuk mendapatkannya sontak sirna ketika mencoba menghubungi dealer Behringer di Jakarta ternyata barangnya kosong. Semenjak itu, tiada lagi impian untuk mendapatkan soudcard ini.

Namun entah karena memang teman saya Penpinzzz itu raja nemu atau memang sudah dari sononya terlahir untuk mendapatkan barang-barang murah berperforma tinggi, tak disangka dia mendapatkan soundcard tersebut di sebuah toko musik di Jogja dengan berbagai proses yang cukup unik.

Berpindahnya soundcard ini ke Angkringan Kang Wed juga bukan suatu yang direncanakan. Tanpa ada badai ataupun hujan, oom Penpinzzz serta merta melego semua peralatan perangnya. Mulai dari Philips Aurilium PSC805, M-Audio Audiophile, Echo Mia MIDI, dan soundcard-soundcard lain termasuk Behringer UCA200 ini. Bak gayung bersambut, langsung saja kang Wed minta luncurkan soundcard ini ke belantara Borneo.

Setelah paket sampai di pelukan, langsung saja dites dengar bagaimana kemampuan soundcard ini.

Bentuk soundcard ini kecil dan sederhana tanpa body yang besar, jauh sekali bila dibandingkan soundcard external seperti Philips PSC805 yang bodynya memang bongsor.

Langsung saja colok ke PC dan otomatis terdeteksi sebagai USB Audio Codec tanpa install macem-macem (walaupun driver ASIO juga disertakan). Sebagai perbandingan, (more…)

Read Full Post »

null

Pengunjung angkringan Kang Wed kali ini berkumpul di angkringan yang lokasinya mepet pinggir rel antara stasiun Solo Balapan dan stasiun Tugu Yogyakarta.
Sembari membaca koran “KR” (Kedaulatan Rakyat : red) mereka dikisahkan oleh Kang Wed tentang sebuah tempat di Indonesia yang masih indah dan memiliki daya tartik besar bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Tempat tersebut terletak di sebuah Taman Nasional di wilayah pedalaman Kalimantan. Nama Taman Nasional itu adalah TN Betung Kerihun.
TN Betung Kerihun merupakan Taman Nasional yang memiliki luas 800.000 hektar. Dinamakan Betung Kerihun karena terdapat dua bukit tinggi yaitu Bukit (gunung) Betung di daerah Barat dan gunung Kerihun di daerah Timur.
Posisi Taman Nasional tepat di daerah perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Posisi yang strategis sekaligus memnberikan ancaman besar terhadap kelestarian ekosistem di Taman Nasional ini.
Secara administratif, Taman Nasional Betung Kerihun yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat dan merupakan salah satu wilayah konservasi yang relatif masih terjaga keasrian dan kelestarian ekosistemnya.

Walaupun dulu pernah terkena dampak illegal logging, namun sejak penertiban besar-besaran oleh gabungan TNI/Polri dan Polisi Kehutanan Dephut pada tahun 2004, praktis kegiatan illegal logging menurun drastis aktivitasnya, bahkan hampir mendekati 0. Namun demikian illegal logging kecil-kecilan tetap saja terjadi, terutama dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan yang mengambil kayu untuk kebutuhan pembuatan pondok, rumah dan kebutuhan perkakas sehari-hari.
Hal inilah yang sampai sekarang masih ditangani oleh pihak TN Betung Kerihun dengan berbagai pendekatan dan pemberdayaan masyarakat sebagai alternatif pendapatan daripada harus masuk ke kawasan TNBK.

Salah satu yang sedang dicoba digarap adalah pengembangan sektor wisata, dimana masyarakat dapat ikut serta mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata tersebut.

Meanwhile…
Sejenak, pengunjung angkringan Kang Wed menekuk jidat mendengar seriusnya penjelasan dari pemilik angkringan sederhana tadi.

“Oke..oke..” sekarang kita lanjut ke bagian cerita yang light and fun.. ringan dan menyenangkan…
Potensi wisata di TNBK sungguh sangat RuARRRR BIasssaa… beragam keindahan alam baik tumbuhan, landscape maupun satwanya dapat dijumpai disini.
Namun sampai sekarang belum ada satu usaha yang nyata untuk mempromosikan hal tersebut, sehingga potensi yang sedemikian besar itu bagaikan Emas yang terpendam di dasar laut..

Nah, akhir November tahun 2008 yang lalu, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Kalimantan Barat mencoba untuk melakukan kegiatan penyusunan paket wisata tersebut.
Tujuan kali ini adalah di Sungai Embaloh dimana aksesibilitasnya relatif mudah dari Kota Putussibau. Selain sudah adanya jalan darat menuju sungai tersebut, juga dikarenakan kantor Bidang Pengelolaan Wilayah I berada tepat di dekat sungai tersebut. Disana wisatawan dapat menggali informasi lebih dalam tentang potensi wisata di sepanjang jalur yang akan dilalui.

Wisata ini merupakan wisata petualangan dengan waktu 6 hari 5 malam.
Wisatawan akan diajak masuk ke kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan menikmati keindahan alam, landscape dan satwa yang akan ditemui nantinya.

Hari Pertama
Perjalanan dari Putussibau menuju Mataso (tempat Kantor Bidang Wilayah I berada) memakan waktu 3 jam menggunakan kendaraan roda 4.
Setelah beristirahat sejenak wisatawan melanjutkan perjalanan menuju camp Karangan Laboh tempat bermalam di hari pertama hingga hari ke-tiga.


kantor bidang pengelolaan TNBK wilayah I

Perjalanan kali ini menggunakan speedboat 15PK. Penggunaan speedboat dengan daya rendah ini dikarenakan akan melewati beberapa permukaan air yang dangkal, sehingga apabila dipaksakan menggunakan speedboat 40PK, perahu akan kandas dan harus ditarik beberapa kali.


perjalanan menuju camp Karangan Laboh

Selama perjalanan menuju camp Karangan Laboh, wisatawan dapat melihat pemandangan di kiri-kanan perahu yang sangat indah dan masih asli ekosistemnya.
Perjalanan selama 3 jam ini merupakan perkenalan bagi wisatawan akan kondisi hutan di Taman Nasional Betung Kerihun. Tidak jarang ditemukan teriakan klempiau (Hylobates agilis yang bergelantungan di dahan-dahan pohon.

Setelah perjalanan yang cukup mengasyikkan tersebut, wisatawan tiba di camp Karangan Laboh.

Karangan Laboh merupakan tempat dengan bebatuan di pinggir sungai dan sebuah dataran di atasnya, sehingga sesuai apabila digunakan sebagai tempat berkemah dan beristirahat. Letaknya yang tepat di batas kawasan Taman Nasional Betung Kerihun juga merupakan salah satu hal yang ideal, karena wisatawan dapat dengan mudah menuju kawasan TN dengan hanya berjalan kaki.


camp Karangan Laboh

Setelah mendirikan tenda dan beristirahat, pada esok harinya wisatawan dapat mulai exploring kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. (more…)

Read Full Post »