Feeds:
Posts
Comments

New FORK [RST Titan Air]

Setelah berhasil angkut SPECIALIZED HARDROCK pada medio Oktober 2015, fork bawaannya masih XCT yang sangat tidak memuaskan, apalagi setelah bertahun-tahun pakai XCM di Xtrada 4.0 yang walau tidak bisa dibilang fork hebat, tapi masih ada sensasi peredamannya. Kalau XCT ini benar-benar kayak pakai Fixie, karena tidak ada main-mainnya sama sekali di jalanan yang super rusak sekalipun.

Akhirnya, setelah membolak balik review-review fork, beberapa kesimpulan akhirnya berhasil dikerucutkan dan akhirnya spesifikasi yang disasar adalah sebagai berikut:

  1. Travel 140, karena saya perlu untuk sekali-kali main lumpur di trek yang tidak rata, dan 120 banyak yang bilang sering terlalu rendah untuk semi downhill.
  2. Air fork, karena bisa diadjust kekerasannya dengan hanya menambah / mengurangi tekanan udara
  3. Warna item, wajib.. karena frame warna item juga
  4. Harga tidak lebih dari 2jt

Dengan list tersebut, akhirnya pilihan jatuh ke RST TITAN Air walau banyak juga racun EPICON yang menggoda iman. Dengan niat sebulat bola dan sekeras baja, akhirnya manteb deh pilih RST TITAN, karena harganya lumayan terjangkau untuk sebuah semi serius FORK. Aku tebus fork ini brand new di Majuroyal tangerang seharga 1,8jt belum termasuk Headset yang ternyata setelah dibuka masih pakai yang model baller (gotri) akhirnya diganti sekalian dengan Headset FSA

WhatsApp Image 2016-09-26 at 14.13.08.jpeg

proses penggantian FORK baru (RST Titan Air)

Setelah diganti beberapa kali aku coba untuk adjust tensionnya baik rebound maupun compressionnya. Setelah dirasa pas dan tidak terlalu lembut atau keras, akhirnya diangkut dah ke rumah untuk dicoba di realtrack weekend berikutnya.

Dengan harga 1.8jt overall puas dengan performa fork ini. Redaman kecil dapat dilibas tanpa membuat tangan bergetar, serta dapat juga untuk handling drop-off kecil-kecil bangsa 1 meter-an. Dengan travel 140m, tongkrongan HARDROCK menjadi lebih tinggi dan mendongak, memberi kesan lebih gagah.

So, bagi yang demen ajrut-ajrutan tanpa bikin kantong ikut-ikutan ajrut-ajrutan, saya rekomendasikan fork RST Titan Air ini.

Advertisements

specy-hardrock

Ya.. akhirnya ngangkut juga sebuah sepeda (bekas) setelah si Xtrada yang pernah menemani saya dari Kalimantan, Jogja, Bandung dan terakhir Bekas-Jakarta sudah berpindah tangan dikarena diangkut (baca: diangkat orang tanpa permisi) di rumah mertua di Jakarta pada tahun 2014 lalu.

Setelah beberapa saat tidak memiliki sarana untuk gowes, akhirnya rasa kangen untuk kembali merasakan gowesan kaki dan bermandikan peluh kembali harus memaksa untuk mencari pengganti si Xtrada 4.0

Beberapa perhitungan pasca hilangnya si Xtrada, maka sepeda pengganti berikutnya harus memiliki spek yang at least sama atau syukur lebih tinggi dari si Xtrada. Maka beberapa spesifikasi yang diinginkan dengan tetap berpatokan pada harga yang realistis adalah sbb:

  1. Groupset harus selangkah lebih tinggi dari Xtrada 4.0 2010 (Alivio) maka pilihannya adalah Deore atau kakak-kakaknya (Deore LX, SLX, XT atau XTR)
  2. Merk optional bisa merk lokal atau merk import, tidak begitu penting.
  3. Frame juga optional, kalau dapet yang fullsus syukur, dapet Hardtail pun ga masalah karena kebutuhannya hanya untuk weekend ride di sekitar rumah dan itupun kebanyakan crosscountry bukan melibas area gunung apalagi downhill
  4. Harga: tidak mahal-mahal (maks 8-9jt)

Dari beberapa spesifikasi tersebut, dan dari hasil hunting baik sepeda baru maupun 2nd, beberapa yang sempat masuk radar antara lain: Wim Cycle Adrenaline series (AM series), Xtrada 6.0 new 2015 dan beberapa sepeda seperti GT, GIANT dan UNITED. Tapi karena harga rata-rata masih di luar budget, maka dengan sabar aku menanti sampai ada yang pas di hati dan di kantong.

Setelah merenung dan mantengin http://www.bukalapak.com dan situs-situs jual beli sepeda, akhirnya ada satu sepeda yang menarik hati. Dari hasil mantengin bukalapak, ada juga yang iklanin sepeda yang masuk kategori yang dicari. Merknya SPECIALIZED lagi, walau masih seri HARDROCK yang relatif low endnya, tapi speknya sudah lumayan banget dengan Groupset DEORE SLX walau masih seri 2011-2012 tapi gak masalah.

Singkat cerita setelah sambangin penjual di daerah BSD, deal-lah sepeda tersebut dengan harga < 7 juta. Mayan murah untuk spek sekelas itu. Hanya saja waktu beli, forknya masih XCT dan ini target pertama yang harus diupgrade..

Alhamdulillah.. sekarang si Blackie (panggilan si hardrock specialized, menemaniku gowes setiap weekend)

 

Welcome to the Netherlands

 

Yaa kesempatan itu akhirnya datang.

Tak henti-hentinya kubersyukur atas karuniaNya yang sedemikian besar sehingga aku bisa dipertemukan dengan negeri kecil nan cantik di salah satu sudut Eropa Barat.

Belanda.

Nama yang sangat kuat terpatri di setiap ingatan penduduk Indonesia. Bukan karena kejunya yang lembut atau susu sapinya yang gurih, tapi lebih pada bagaimana selama hampir setengah abad nama tersebut menaklukkan negara Indonesia dengan tanah airnya dan mengeruk isinya demi kemakmuran penduduknya di Eropa.
Ya, Belanda telah menjajah Indonesia sedemikian lama sehingga walaupun sudah meninggalkan bekas jajahannya selama 67 tahun, peninggalannya pun masih banyak tersisa di Indonesia. Dan harus diakui infrastruktur dan public facilities yang tertinggal pun banyak yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.
Tak heran kalo negeri ini menjadi salah satu negeri termakmur di dunia saat ini dengan tingkat kepuasan penduduk terhadap kotanya yang sedemikian tinggi.

Dan akhirnya, aku pun bisa merasakan bagaimana negeri ini bisa sedemikian maju bahkan sejak ratusan tahun yang lalu. Program S2 Double Degree yang aku ambil sejak satu tahun yang lalulah yang mengantarkanku bisa merasakan atmosfer kesuksesan suatu negara dalam melayani penduduknya.

26 Agustus kuberangkat dari Soekarno-Hatta Int’l Airport jam 19.35 dengan diantar oleh seluruh anggota keluarga termasuk isteri, papa, mama, dede dan ade. Tiba di airport masih sekitar jam 16.00 WIB. Setelah sholat ashar di terminal 2D, kubergegeas checkin bagasi ke counter Malaysia Airlines. Ya, sedikit kecewa kenapa tidak naik Garuda Indonesia saja biar lebih nasionalis. Tapi karena memang semua sudah diatur oleh NESO Indonesia, kami terima beres dan mendapat tiket MAS sebagai pengantar kami study di Holland. Sebelum cekin aku sempatkan dulu untuk menimbang bagasi dengan alat timbangan digital punya temen seperjuangan. Di layar seven-segmen LCD di timbangan tersebut tertera angka 27kg. Amaaan pikirku.

Setelah checkin dan menaikkan koper segede gaban punyaku, ternyata di counter checkin tertera angka 24kg. Wah timbangannya MAS ini agak ‘baikan’ ternyata. Bahkan seorang temen yang bagasinya 31.5kg ternyata setelah ditimbang di counter checkin cuma 29.5kg. Ya jatah free baggage kita memang 30kg/student.

Walaupun sudah diberi extra 10kg(s) dari batas maksimum bagasi standar (20kg) tetap saja banyak yang bawaannya mepet-mepet bahkan lebih dari 30kg. Terpaksa kreatifitas untuk saling nitip kelebihan bagasi ke koper teman yang kuotanya masih ringan terjadilah. Singkat kata kami bisa checkin dan nggak ada yang over baggage. Keren ya.. #apasih

suasana antri bagasi di terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta

Rute penerbangan menuju negeri londo adakah Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam. Kami cuma punya waktu kurang dari satu jam di KL untuk berpindah pesawat. Rute Jakarta-Kuala Lumpur MAS menggunakan armada Boeing 737-800NG persis seperti yang Garuda punya dengan wing tip menjulang. Hanya saja, interior pesawat ini tidak lebih baik dari interior Lion Air 737-900NG dengan kursi kulit biru, walaupun jarak antar seatnya sedikit lebih lega dari JT. Jangan bandingkan dengan interior Garuda yang lebih elegan dan nyaman dengan passenger seat berbahan kain. Singkatnya kita takeoff agak terlambat sekitar 30 menit dari waktu yang tercetak di boarding pass. Maklum hari itu adalah hari puncak arus  mudik sehingga lalu lintas bandara Soetta juga sedemikian padat. Setidaknya yang aku amati pesawat yang kutumpangi ini harus menunggu di short dahulu setelah 3 pesawat Lion Air mendarat berturut-turut. Setelah line-up dengan runway, pesawat dipacu untuk segera mengangkasa menuju KL.

Jam 23.30 waktu KL, atau lebih kurang 2 jam penerbangan CGK-KL pesawat landing dengan mulus di Kuala Lumpur International Airport. Setelah turun dari pesawat, kubergegas masuk terminal kedatangan. Memang harus diakui bandara KL ini sangat bagus penataan, desain dan arsitekturnya. Canggihnya lagi, ada aerotrain sejenis kereta tanpa awak yang mengantar penumpang dari terminal yang satu ke terminal yang lain di bandara tersebut dengan gratis dan cepat. Setelah naik aerotrain, segera kami menuju gate 37 yang ternyata sudah pada antri untuk boarding ke pesawat selanjutnya yang mengantar kita ke Amsterdam. Security Check di Malaysia lumayan ketat. Entah kenapa laptop harus dikeluarkan dari tas. Beruntung aku nggak disuruh untuk ngeluarin.

Pesawat MAS yang mengantar ke Amsterdam kali ini adalah Boeing 777-200 pesawat berbadan lumayan lebar dengan dua alleys (gang) dan memang ditujukan untuk penerbangan jarak jauh. Tidak seperti 738 yang kursinya mirip angkot/bus ekonomi, 772 memiliki kursi yang nyaman, dengan headrest yang bisa disesuaikan dengan bentuk kepala. Selain itu, fasilitas entertainment seperti AVOD (Audio Video On Demand) sebanyak 67 channel plus multimedia, dan onboard GPS pun cukup menghibur penumpang agar nggak mati gaya saat terbang selama 14 jam.nTapi MAS bukan tanpa drawbacks. Menu makanan dan minuman MAS di lidah saya tidak terasa spesial bahkan cenderung tidak terlalu enak. Jauh sekali bila dibandingkan dengan GA yang menunya memang masuk di lidah. Saya coba nasi ayam ternyata bumbunya agak hambar, bubur kambing juga baunya menyengat, kambing buangett.. begitu juga untuk snack-snacknya seperti cracker yang rasanya aneh.

Singkat kata, setelah terbang selama hampir semalaman, jam 6.20 pagi waktu Amsterdam, pesawat mendarat di Schiphol Int’l Airport dengan mulus, bahkan saya nggak merasa kalo pesawat sudah touch ground.

Bandara Schiphol ternyata juga cukup besar walaupun desainnya belum mampu mengalahkan bandara KLIA di Malaysia. Setelah cek imigrasi untuk cap visa, kami pun pergi ke baggage claim untuk mengambil bagasi.
Disini saya sempatkan telpon istri dengan skype to skype yang sudah terinstall di handphone kami masing-masing. Beruntung wifi di Schiphol cukup baik dan kenceng sehingga bisa komunikasi tanpa masalah.
Kelar ambil bagasi, saya dan temen-temen kemudian keluar ke lobby kedatangan buat cari tiket KA ke Groningen. Tiket seharga EU24 tersebut bisa dipakai selama sehari penuh untuk sekali naik. Sebelum turun ke stasiun yang ada di bawah bandara, kami sempatkan foto-foto dulu di halaman depan bandara.
Suhu di Amsterdam saat itu 11 derajat lumayan hangat untuk ukuran orang Eropa, dan cukup dingin untuk ukuran kulit tropis saya haha

Mejeng di depan Bandara Schiphol

Jam 9.20 KA Groningen tiba di stasiun Schiphol. Disini semua transportasi sangat sangat tepat. Kalaupun terlambat atau kecepetan, paling kisaran 1-2 menit an. Hebatnya hampir semua KA dilengkapi dengan wifi gratis, sehingga penumpang bisa dengan nyaman menggunakan internet selama perjalanan.

di dalam kereta api NS (Nederlandse Spoorwegen)

Sekitar jam 12 KA tiba di Stasiun Groningen. Stasiunnya kecil, lebih kecil dari stasiun tugu di jogja dan masih lebih bagus stasiun tugu. Untuk menggunakan WC/toilet di stasiun, penumpang harus bayar sebesar setengah sen kayak di toilet-toilet umum di Indonesia.

Waktu itu rombongan kami dijemput senior-senior kami dari angkatan sebelumnya. Ada mas Hermadi, mas Arief Cirebon, mas Arief Amrullah, mas Ryan Hidayat dan ketua PPI Groningen mas Hengky. Menuju Kornoeljestraat tempat housng kami, bisa ditempuh dengan menggunakan bus kota yang terminalnya terintegrasi dengan stasiun kereta. Bus nomer 5 adalah bus yang mengantar kami menuju tempat tujuan. Tarifnya EU 1.5 dan sopirnya bertindak selaku kondektur sekaligus. Selain mengemudikan bus, dia jugalah yang nerima duit pada saat penumpang antri dengan tertib masuk satu-satu ke bus, memberikan tiket dan men-cap tiket tersebut dengan stempel tertanggal hari dan jam ini. Tiket bisa digunakan lagi selama belum lebih dari 1 jam di bus-bus kota yang lain.

 

 
rempong turun dari bus di depan kos

Nggak jauh perjalanan menggunakan bus, kami tiba di Blue Building tempat kami akan tinggal untuk setahun ke depan.Bangunan ini merupakan International Student Housing berlantai 10 dengan 32 kamar di setiap lantainya. Beruntung, kamar yang aku tempati ini sudah ditinggalkan penghuni sebelumnya dan sudah dirapikan, sehingga siap ditinggali walaupun kontrak tinggal disini baru dimulai tanggal 1 September 2012, masih 5 hari ke depan

Setelah menaruh barang di kamar masing-masing, senior ternyata sudah mempersiapkan jamuan selamat datang untuk adik-adik kelasnya. Cocok banget dengan perut yang mulai melilit setelah makanan yang terhidang terakhir adalah makanan di pesawat tadi malam yang tidak terlalu enak. Menu kali ini adalah tumis wortel, omelette kentang dan jus. Mbak Amanda lah yang meramu bumbu masakan dengan pas ditambah udara dingin Groningen sehingga membuat acara makan-makan kali ini terasa nikmat sekali.

makaan

Yaa.. Welcome to Groningen

Hehe.. Salam Lestari..

Edisi angkringan kali ini kembali ke tema bersepeda. Sudah beberapa lama Kang Wed tidak membuat goweser story, terutama sejak pindah ke Bandung, padahal kegiatan gowes di Bandung lebih banyak (baca: kalori yang terbakar) daripada di Kalimantan dahulu. Maklum saja, disamping waktu yang lebih padat dan kegiatan yang lebih banyak di Bandung, serta sisa energi untuk membuat tulisan juga tipis, akhirnya baru kali ini tulisan ini bisa dirilis ke para pembaca semua.

 

Well, medan gowes di Bandung sangat berbeda dibandingkan dengan medan di Kalimantan.

Di Kalimantan, kita masih bisa bersuka ria dan merasa belum capek walaupun sudah menempuh jarak lebih dari 50 km. Berbeda dengan di Bandung, terutama Bandung Utara, dengan gowes sejauh 10-an km saja, tingkat kecapekan kita sama atau bahkan melebihi gowes di Kalimantan sejauh 50km. Kenapa?

Topografi di Bandung yang cenderung berbukit-bukit dengan tingkat tanjakan dari landai sampai dengan extreme terbukti nyata menyumbang dalam peningkatan tingkat capek goweser. Tanjakan dengan kemiringan 30-45 derajat bukanlah hal yang aneh di Bandung, sementara itu, tanjakan 10 derajat di Kalimantan merupakan hal yang langka. Betul memang topografi di Kalimantan juga banyak tanjakan dan bukit-bukit, tapi tidak setinggi dan se-panjang tanjakan di Bandung.

Begitu juga rute gowes kali ini,

Destination : WARBAN (Warung Bandrek) Babe di daerah di atas Dago Pakar
Continue Reading »

asus logo

been so long i don’t do writing on this blog…

well … as my allowance come (finally) and after accidentally saw a heart-taker new ASUS laptop in BEC (Bandung Electronic Centre ) , finally i have the opportunity to own it.

Asus A43S

At a glance, this new laptop just no more similar than other ordinary laptops.
Compared with my previous Asus laptop (which is K40IE) this new A43SV comes up with chiclete keyboard and silverish palm rest. A bit luxurious for the look. But, the most important thing is it equipped with the newest architecture Intel processor. The Sandybridge !! A lot of reviews around the globe already discussed about the powerfulnes of the newest generation of Intel’s CPU.

Even though the CPU only Core i3 2310 M, but since it still the member of Sandy Bridge family the performance is undeniably excellent. From many reviews stated that i3 Sandybridge’s performance is almost equal with the i5 processors from the predecessor architecture. As we knew, the former codename before the Sandy is the Arrandale. Moreover, the market name for it is stated below :

Celeron P4xxx/U3xxx
Pentium P6xxx/U5xxx
Core i3-3xxUM/3xxM
Core i5-4xxUM/4xxM
Core i5-5xxUM/5xxM
Core i7-6xxUM/6xxLM/6xxM

The increase of performace in the new architecture is caused by the use of new high-K metal gate in the manufacturing processes. Unlike the Westmere processor, Sandy Bridge is a highly integrated single die solution incorporating a graphics processor built into the same die as the main processor cores. Hence, one can expect better graphics processing capabilities since its memory controller and graphics are now interconnected using a new high speed, high bandwidth ‘ring’ architecture. The unique ring architecture allows the processor’s cores to share its critical resources such as its cache with the graphics processor, thereby improving the overall performance of the computer while maintaining an energy efficient system.

Frankly, old i5 owners will be irritated when they see the performance of this new processor, certainly.
The new i5 processor will have exactly same architecture with this i3 processor, minus the Turbo-boost technology. So, do not hesitate to choose this i3 processor if you are not demanding additional Gigahertzs provided by by Turbo-boost technology.

Enough for scientific words…

GT540M

Apart from the powerfulnes, the integrated graphic is also surprisingly fast, especially for 5 million rupiahs Laptop. The NVidia GeForce GT540M is implanted under the keyboard. The most striking feature of this brand-new entry level of laptop GPU is not just an ordinary one. It equipped with the 96 unified shaders along with 128 bit interface which is rarely found on the ordinary laptops (not the gaming laptops).

After i owned the laptop, i managed to install all of my favourite games i had. And surprisingly, even the most graphic demanded game like CRYSIS 2 can run smoothly on the HIGH setting and resolution. The other games such as Assassin’s Creed : Brotherhood, Call of Duty : Black Ops and Pro Evolution Soccer 2011 are ran smoothly without a doubt.

Here are the CRYSIS 2 Screenshots :

cry a

the setting :
cry b

30 fps
cry c

27 fps
cry d

quite nice fps for a laptop GPU 🙂

An initial investigation shows that the performance of this laptop did not sound cheap.
By looking at the WEI (Windows Experience Index), we can draw a rough picture about its performance.

Obviously, the performance can not be neglected even for desktop users, especially the main entry one. The score itself is quite high for a low-budget laptop. To be honest, it is definitely fast. I feel that my ripping and rendering activity becomes much faster than the predecessors by large gap. I would say it was amazing to see how fast a video was ripped by this beast.

The other interesting fact is that it comes up with a half Terabytes HDD. Quite huge for everyday activities, but since it equipped with the powerful graphic adapter and also a fast processor, i’ll be teased to install all of graphic-demanded softwares.

asus

In addition, the ASUS features embedded on this new laptops noted as added values to me. The Ice Cool feature is able to reduce the heat on the palm rest significantly. However, compared to my previous laptop which is ASUS K40IE, this laptop is little bit warmer. The old K40IE is very-very cool indeed.

Not only does the new A43SV has the advantages mentioned above, but it also has its disadvantages. The poor quality of sound is much-much worse than my old K40IE which has excellent and clarity sound for laptop class. Even though it equipped what is so-called ALTEC LANSING speaker, but the quality is mediocre. Frankly, i waould say that it is horrible. But, one obstacle will not hinder its superiority especially when we talk about graphic and rendering program.

Least but not least, for around 5,2 million rupiahs.. this cutting-edge baby born is a MUST HAVE gadget, especially when you are kicked out by your companion’s old core i5 laptops then this one will tie it down and make averybody drooling..

END OF REVIEW

thanks to BAPPENAS

First February 2011 would be my unforgotten day of my live…

It was Tuesday afternoon when i had a regular meeting with other National Park employees
i still remembered when a strange number rang my new Onyx (little bit narcissistic would be perfect ok?) in the middle of the meeting, luckily i set the tone to silent mode. Even though, i had a task to record all the processes happened in the meeting, should i answer the phone while i was typing? do i looks like a four handed monster??
well i did ignore the call btw and the meeting goes on..
Meanwhile… came the breaktime .. then… unintendedly i searched the google for the phone number i have rejected recently.

How shocked i was, because google’s screen showed a similar number with the ITB (Institut Teknologi Bandung) phone-line and i rejected it as i did to almost all unknown callers.
As soon as possible i reached my cellphone and made a call to that number but… only a fax machine’s tone i heard.

Furthermore i did a deeper search to the phone number i’ve found that it belongs to Master of Urban Planning Study Program. Thanks to Mr.Google. Finally i found another number which was not a fax machine.
After made a call, the long awaiting good news finally came.. yess i’ve been granted for a scholarship from Bappenas and luckily i’ve been accepted in ITB university in Bandung + University in Netherland.
Alhamdulillah…

After talked with my superiors and they allowed and encouraged me to take the chance, i prepared all things needed for the scholarship. Ten days later (11/3 2011) i leaved Putussibau for a long time to go to a new city called Bandung -my previous dream city to lived in- where my new task as a student began. Before i went from Putussibau, i sold some items that hard to be carried on. My computer rig, speakers, etc are sold to my colleagues. Lucky to them who bought my stuffs due to its low prices (TBH i needed money also :p).

And…

Here i am… Living in a new city called Bandung. A city that used to be my dream place to study if only i accepted in STT Telkom about 13 years ago. God always has a way to grant the prayers…
Now i enjoys much for living in Bandung than my previous city (Putussibau).
Many things are almost a half priced here, especially the foods and clothes..
And … a lot of good loking girls also (undeniable……. haha) hopefully can get one of them :p
Hmm… almost forgot, why i wrote this post in English rather in Bahasa?
Yup right!!
I did it to practice my writing due to IELTS course i’ve attended.
6.5 is the minimum score i have to achieve in order to be accepted in Holland’s University, otherwise i should finish all my two years in ITB, hmm… i don’t think so.

Okay..
Looks like i have wrote in adequate words (150 minimum :p how economic i am :p )
next..
things interesting in Bandung

00:34 16th March 2011
early morning…
Kanayakan 2

edited : 3th July in JOG
PS : VERSI BAHASA INDONESIAnya GUGEL

Yaa…

kode perbangan Lionair menggunakan kode JT. Banyak yang memplesetkan menjadi sebuah akronim yang artinya Jelas Telat…
Tuliasan ini saya buat di ruang tunggu A2 Bandara Soekarno-Hatta karena delay yang sangat lama (3 jam) dari pesawat yang sekiranya akan membawa saya ke Pontianak.
Pesawat yang semestinya takeoff pada pukul 15.00, didelay menjadi pukul 17.00 WTF!
*edited : delay ditambah lagi 2 jam lebih, jadi total hampir 6 jam delay!! Akhirnya saya baru terbang pukul 19.45 dan landing di Pontianak pukul 21.30*

Delay ini tidak terjadi pada penerbangan ini saja, melainkan pada penerbangan-penerbangan Lionair lainnya.
Hal ini menjadikan ruang tunggu di semua terminal menjadi penuh sesak dan wajah-wajah yang emosional.

Delay seperti ini tidak terjadi sekali pada hari ini saja melainkan sering sekali terjadi khususnya Lion air.
Kenapa saya menyimpulkan demikian?
2 Minggu terakhir saya wira-wiri menggunakan beberapa penerbangan salah satunya Lion Air ini.
Dari sekian penerbangan tersebut, 3 flight menggunakan JT, dan coba anda tebak, tiga-tiganya DELAYED semua!!

Variasi delay pun berbeda-beda antara 10 menit hingga 3 jam seperti hari ini.

Alasan cuaca sama sekali tidak bisa digunakan sebagai dasar.
Sebagai seorang pilot saya setidaknya tahu persis mana cuaca yang bagus dan cuaca yang jelek, mana cuaca yang safe untuk terbang dan mana cuaca yang tidak safe untuk terbang.

Dan hari ini, cuaca sangat-sangat bagus dengan wind calm dan langit biru.
Cuaca yang sangat-sangat safe bahkan untuk sebuah pesawat trike yang biasa saya awaki yang notabene membutuhkan cuaca yang benar-benar clear and smooth untuk menerbangkannya.

Terlepas dari itu semua, Lionair merupakan salah satu (satu-satunya) airline yang memberikan kemudahan dalam hal pemesanan tiket secara online. Hampir tidak ada satu airline pun yang mampu menyaingi user friendliness dari sebuah ticketing engine milik Lionair.
Hal tersebut yang memicu saya untuk sering menggunakan airline ini. Disamping kemudahan dalam hal booking dan issued ticket, juga kemudahan membayar melalui e-banking dan ATM tidak semudah ditemui pada airline lain. Tercatat hanya Mandala yang memberikan kemudahan serupa, sedangkan maskapai lainnya belum sepenuhnya memberikan kebebasan pengguna dalam memesan tiket.

Namun, terhitung per hari ini saya akan berpikir 1000 kali untuk menggunakan Lionair lagi, walaupun dengan segala kemudahannya namun kebiasaan jelek yang suka delay ini memupus semua sanjungan saya terhadap Lion Air.
Continue Reading »