
Hehe.. Salam Lestari..
Edisi angkringan kali ini kembali ke tema bersepeda. Sudah beberapa lama Kang Wed tidak membuat goweser story, terutama sejak pindah ke Bandung, padahal kegiatan gowes di Bandung lebih banyak (baca: kalori yang terbakar) daripada di Kalimantan dahulu. Maklum saja, disamping waktu yang lebih padat dan kegiatan yang lebih banyak di Bandung, serta sisa energi untuk membuat tulisan juga tipis, akhirnya baru kali ini tulisan ini bisa dirilis ke para pembaca semua.
Well, medan gowes di Bandung sangat berbeda dibandingkan dengan medan di Kalimantan.
Di Kalimantan, kita masih bisa bersuka ria dan merasa belum capek walaupun sudah menempuh jarak lebih dari 50 km. Berbeda dengan di Bandung, terutama Bandung Utara, dengan gowes sejauh 10-an km saja, tingkat kecapekan kita sama atau bahkan melebihi gowes di Kalimantan sejauh 50km. Kenapa?
Topografi di Bandung yang cenderung berbukit-bukit dengan tingkat tanjakan dari landai sampai dengan extreme terbukti nyata menyumbang dalam peningkatan tingkat capek goweser. Tanjakan dengan kemiringan 30-45 derajat bukanlah hal yang aneh di Bandung, sementara itu, tanjakan 10 derajat di Kalimantan merupakan hal yang langka. Betul memang topografi di Kalimantan juga banyak tanjakan dan bukit-bukit, tapi tidak setinggi dan se-panjang tanjakan di Bandung.
Begitu juga rute gowes kali ini,
Destination : WARBAN (Warung Bandrek) Babe di daerah di atas Dago Pakar
Perjalanan dimulai dari kosan saya di daerah Kanayakan. Sehari sebelum nanjak, saya kalkulasi dahulu perkiraan panjang track dari kos saya menuju Warban (sekitar 6,5 km). Berbekal sepotong Silverqueen dan segelas air mineral, saya seret rekan goweser saya Ms. Endah dengan Dominate Whitenya, memiliki obsesi sama, merasakan hangatnya Bandrek Susu di warung Warban Babe.
Tepat jam 6.30 saya mulai mengayuh Xtrada 4.0 kesayangan saya menuju Assembling Point di depan Hotel Bukit Dago. Tepat jam 6.43 kita berangkat gowes menuju Warban. Rute yang ditempuh dibagi menjadi 2 etape (Dago-Tahura dan Tahura-Warban) Etape pertama berjalan mulus tanpa banyak berhenti karena rute ini merupakan rute rutin tiap weekend (menuju Tahura)
Perjalanan menuju Tahura sejauh 3,3 km dengan rute 90 persen tanjakan dirasa cukup sebagai pemanasan sebelum melanjutkan ke rute selanjutnya menuju Tahura. Istirahat sejenak di Tahura untuk menghela nafas terasa menyegarkan mengingat saat itu ketinggian di Tahura mencapai sekitar 700 meter dpl.
Perjalanan dilanjutkan ke rute menanjak yang sebenarnya. Tahura-Warban !
Beberapa meter dari Tahura, kita dihadapkan pada jalan bercabang, lurus dan ke kanan. Sepintas kalau baru pertama kali ingin menuju Tahura, jalan yang luruslah yang harus ditempuh, tapi rute yang biasa ditempuh para goweser adalah jalan yang serong ke kanan. Setelah pilih jalur kanan tersebut, kita akan memasuki kompleks DAGO Pakar dengan deretan rumah-rumah yang mewah dan view yang asri.

Tantangan menanjak mulai dirasakan di ujung perumahan ini dimana tanjakan dengan sudut elevasi sekitar 35 derajat harus ditaklukkan. Di area ini akan ditemui banyak keluarga yang berjalan kaki menuju warban terutama di hari Sabtu dan Minggu.

Selepas dari Perumahan Dago Pakar, perjalanan akan semakin menanjak namun rindangnya pepohonan dan pemandangan yang begitu mempesona di kanan dan kiri jalan sanggup membuat para goweser terlena akan usahanya mengayuh sepeda. Tak terasa, kita akan sampai di pemberhentian pertama (warung simpang) sebelum tanjakan terakhir menuju Warban.


Di sini, para goweser biasa beristirahat sambil memandangi kota Bandung di kejauhan. View di sini banyak yang bilang lebih menarik dibandingkan view di Warban di atas, walaupun degree of satisfaction nya juga berbeda. Warung ini juga telah dilengkapi dengan parkiran Sepeda khas Indonesia (berupa palang bambu tempat seat post dikaitkan di sana). Berjejer-jejer sepeda berbagai macam merek dan tipe mulai yang harganya < 1 juta sampai merk-merk kelas atas seperti Giant, Specialized hingga Cannondale menghiasi parking lot di warung tersebut.
Di sini, para goweser bisa merasakan nikmatnya bandrek susu atau minuman hangat lainnya dipadu dengan makanan ringan sembari beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Warban Babe di atas.

Setelah beristirahat sejenak, tiba waktunya menaklukkan tanjakan terakhir.
Tanjakan terakhir ini begitu menanjak hingga banyak orang menghadiahkan sebuah nama “Tanjakan Putus Harapan” Unik bukan??
Maklum saja, jangankan untuk gowes sambil nyanyi, saya bahkan harus berusaha berkali-kali untuk dapat menggowes sepeda saya dari posisi STOP ke posisi gowes saking menanjak dan banyaknya batu/kerikil yang lepas-lepas di daerah ini. Kondisi Aspal yang sudah mengelupas di sana-sini turut menambah kesulitan dalam memulai gowes. Akhirnya setelah berbekal sedikit ancang-ancang dari tempat yang agak landai berhasil jugalah Xtrada 4.0 saya digenjot naik ke atas.
Di sini, kehebatan sepedan dengan 27 atau bahkan 30 speed mulai terlihat. Banyak sepeda dengan cassette 9 speed (Deore and new Alivio) berhasil menanjak dengan nyaman. Sementara sepeda saya yang masih dipersenjatai dengan Alivio 8 speed (24 speed total) terasa harus bekerja ekstra untuk mengimbangi para 27ers. Namun, berbekal semangat pantang menyerah dan hasil pembakaran 1 potong Silverqueen pas rehat, tanjakan putus harapan pun dapat dilalui tanpa TTB.
Sejenak melirik ke belakang, ternyata Ms. Endah sedang melakukan ritual TTB, hehehehe rasain lu ndah.. :p
Tepat sampai di puncak, sembari menunggu temen saya yang masih nuntun Dominate di belakang, saya pun beristirahat sejenak.
Track terakhir berupa track menurun landai yang berakhir tepat di depan Warban BABE. Sempat sebelum menurun, foto-foto dulu di area sekitar puncak bukit ini..

Akhirnya, setelah meluncur turun, kami pun tiba di Warung Bandrek (Warban)
Warungnya tidak seberapa besar, namun peminatnya ratusan dan suasana di sini hampir bisa mengalahkan meriahnya suasana di Dago Car Free Day (lebay deh)..

Setelah antri sebentar, Bansus (Bandrek Susu) pun tersaji bersama gorengan pisang dan tahu.
Suasana yang meriah dan asyiknya berbagi cerita dengan para goweser yang lain serta puas telah menaklukkan beberapa tanjakan curam cukup membuat betah siapa pun yang berkunjung ke Warban.
Tak terasa, segelas besar Bandrek Susu berbandrol sekitar 3000an rupah berhasil digelontorkan masuk ke badan saya dan sensasi hangat pun segera menyeruak. Di ketinggian sekitar 1000 meter lebih dpl, menikmati Bandrek Susu, merupakan kenikmatan tersendiri dikarenakan udara sekitar yang cukup dingin.
Setelah puas berhahahihi dengan goweser lain yang berangkat dari berbagai penjuru kota Bandung (bahkan Jakarta dan sekitarnya), perjalanan menurun dimulai.
Hari itu, rute di akhiri dengan sarapan bersama teman-teman yang lain yang sudah menunggu di Bubur kental Mang H.Oyo di jalan Sulanjana. Alih-alih memesan bubur, saya malah memesan ayam bakar sebagai menu sarapan sekaligus lunch hari itu

Overall, bagi yang tertarik ke Warban, peta menuju kesana dan rute gowes saya dapat dilihat di map dibawah ini.

klik peta untuk memperbesar
Semoga bermanfaat….


