Kali ini, beberapa pengunjung Angkringan Kang Wed dibuat terkesima.
Bukan karena nyamlengnya wedang SUJAH (Susu Jahe) yang disruput sedikit dan bikin “kemepyar”. Bukan pula dikarenakan bakaran tempe mendoan yang pas dilidah, tidak gosong tidak pula mentah… jan kemripik dan cemowel. Dan dipastikan bukan karena bungkusan sego kucing yang pulen dengan hiasan kering tempe maupun sambal teri yang membuat sang lidah menari-nari.
Akan tetapi.. malam itu, bukan hanya mulut dan perut yang dimanjakan. Namun salah satu panca indera yang lain pun ikut serta merasakan pulennya suara Jheenna Lodwick, Heather Headlay maupun nyonyornya bibir Jason M’raz yang serasa konser di depan mata para sederek pengunjung Angkringan Kang Wed.
Tidak seperti biasanya pengunjung Angkringan Tampak diam menghayati setiap nada yang dilantunkan para penyanyi kelas atas tersebut. Sesekali sambil “umik-umik” mulut mereka menirukan lontaran syair dari speaker butut di pojok-pojok angkringan. Tak jarang pula kaki mereka mengetuk ke tanah setiap kali iringan instrumen berkumandang. Sungguh pemandangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Sampai suatu saat, seseorang bertanya : “Wah kok nyamleng tenang suarane saiki kang?” (ind : Wah kok mantap bener suaranya sekarang kang?). Sang pemilik angkringan pun hanya tersenyum-senyum dengan simpulnya yang khas.
Rahasia apakah hingga sang pengunjung bisa terhipnotis sedemikan rupa? Simak saja flashback berikut :
Awal bulan Mei ini, salah satu teman saya Hendri a.k.a. penpinzzz mengirimkan sebuah soudcard external keluaran Behringer. Sungguh sangat beruntung bisa mendapatkan soundcard ini, karena disamping langka untuk mencarinya, barang ini juga termasuk best bang for bucks (price performance nya manstap) Soudcard ini merupakan soundcard khusus untuk musik. Kang Wed sendiri belum begitu lama mendengar tentang keberadaan soundcard ini. Namun harapan untuk mendapatkannya sontak sirna ketika mencoba menghubungi dealer Behringer di Jakarta ternyata barangnya kosong. Semenjak itu, tiada lagi impian untuk mendapatkan soudcard ini.
Namun entah karena memang teman saya Penpinzzz itu raja nemu atau memang sudah dari sononya terlahir untuk mendapatkan barang-barang murah berperforma tinggi, tak disangka dia mendapatkan soundcard tersebut di sebuah toko musik di Jogja dengan berbagai proses yang cukup unik.
Berpindahnya soundcard ini ke Angkringan Kang Wed juga bukan suatu yang direncanakan. Tanpa ada badai ataupun hujan, oom Penpinzzz serta merta melego semua peralatan perangnya. Mulai dari Philips Aurilium PSC805, M-Audio Audiophile, Echo Mia MIDI, dan soundcard-soundcard lain termasuk Behringer UCA200 ini. Bak gayung bersambut, langsung saja kang Wed minta luncurkan soundcard ini ke belantara Borneo.
Setelah paket sampai di pelukan, langsung saja dites dengar bagaimana kemampuan soundcard ini.
Bentuk soundcard ini kecil dan sederhana tanpa body yang besar, jauh sekali bila dibandingkan soundcard external seperti Philips PSC805 yang bodynya memang bongsor.
Langsung saja colok ke PC dan otomatis terdeteksi sebagai USB Audio Codec tanpa install macem-macem (walaupun driver ASIO juga disertakan). Sebagai perbandingan,
PC yang digunakan menggunakan soudcard onboard bawaan Biostar TP45HP (Realtek ALC888)
Pertama kali, yang coba diperdengarkan adalah lantunan Kari Bremes berjudul Han E EnĀ Katastrofe (He’s cathastrophy). Suara lantunan Kari begitu renyah dan jelas didengar dari 2 buah speaker butut. Serasa lagu ini memiliki soul yang lain mengingat sebelumnya dengan soundcard bawaan serasa hanya suara orang norwegia biasa tanpa ada personifikasi “basah-basah di bibirnya”.
Lanjut ke lagu ke-dua Dream Theater : Spirit Carries On yang cenderung memiliki hentakan musik dan nada yang tinggi, cukup diproduksi dengan sangat baik oleh soundcard ini, petikan gitar John Petrucci dan lengkingan vokal James LaBrie benar-benar terasa pas. Efek staging juga terlihat jauh lebih lebar bila dibandingkan soundcard besutan Realtek yang sebelumnya dites dengar.
Setelah puas mendegarkan kolaborasi para profesor musik tersebut, tiba giliran Chie Ayado melantunkan suaranya. Kali ini tittle yang dipilih adalah “I’ll Wait For You”. Intro lagu ini yang diawali dengan petikan-petikan gitar dapat disajikan dengan pas. Namun ada sedikit kekurangan pada saat suara Chie Ayado muncul serasa sedikit kurang tebal dan berat. Walaupun secara overall lagu ini dapat disajikan dengan cukup baik. Sedikit kecurigaan muncul pada kurang responnya soundcard ini di frekuensi rendah
Penasaran dengan kurang maksimalnya test lagu ke-tiga tersebut, sesi terakhir sekaligus pembuktian diambilkan salah satu tittle dari Zhao Pheng yang memiliki karakter suara yang warm dan bassy (cocok untuk test nada-nada rendah) ternyata memang masih di bawah performa Soundcard external lain yang pernah dicoba seperti Philips Aurilium PSC805 modded yang waktu itu bisa benar-benar mampu mereproduksi suara vokalis dalam album The Great Basso tersebut dengan sangat baik.
Secara overall, soundcard ini memang cocok untuk lagu-lagu yang mid to high, sedangkan untuk lagu-lagu dengan frekuensi rendah masih kurang terasa warm. Ada kemungkinan hal tersebut dapat di atasi dengan mengganti capacitor atau mod pada PCB soundcard ini.
Sesi kedua, driver ASIO beraksi. Kolaborasi dengan Foobar 2000 memang membuat perubahan di segala aspek. Frekuensi mid-high yang sebelumnya cenderung terpendam, dengan ASIO menjadi lebih bright dan crisp. Detail vokal dari ke empat tittle di atas juga lebih baik daripada menggunakan DirectX driver. Lack of low frequency yang ditunjukkan pada sesi test sebelumnya sedikit dapat dicover dengan menggunakan driver ASIO dari Behringer ini.
Penasaran dengan hasil yang cukup mengesankan tersebut, setelah dibuka casing soundcard terlihat komponen di dalamnya
terlihat chip DAC utama (digital to analog converter) adalah BB PCM2902E. Burr-brown sebagai penghasil chip audio ternama memang menjanjikan sebuah kualitas.
Chip ini sama persis yang digunakan oleh Headroom Total Bit Head yang merupakan pre amp untuk headphone dengan performa yang mengesankan. Tidak heran jika UCA200 yang menggunakan chipset yang sama mampu menyajikan detil suara yang baik.

Headroom Total Bit Head
Sementara itu di tenda angkringan….
Para pengunjung masih saja tetap menghentak-hentakkan kaki mengikuti irama drum gebukan Mike Portnoy, serta terkada di mulut mereka terlihat mengikuti gerak-gerik vokal James LaBrie…
If I die tomorrow, i’ll be allright because i believe..
That after we’ve gone..
The Spirit Carries On……….








mantap bos…klo untuk laptop bisa ndk..?
thx u boss
untuk laptop bisa lah rah.. kan ini USB powered
minatkah? hehehe
cen mantep tenan kang, jo meneh nek lagune the spirit carries on…mantep, mak cleng cleng…
lha pie arep dilego po pie..?
aurulium e tok sikat juga po kang wed…?
Sementara (baca : Sementaun) not for sale mas bakri..
Aurilium isih neng Jogja nggo nostalgila…
matur nuwun wis mampir krek..
Ak pnya uca 200 ko ga mw kedengeran input.na…di control panel ak cek jg recording volume.na ga ditemuin..gmna ni??ap rsak ya??tlg dibantu suhu2..
dilego dilego saya siap nampung mas… hihihi bosen denger realtek suarane kok “athos”..
salam kenal mas, saya ruzan di jogja juga.
saya usaha DIY amplifier ama modifikasi kecil2an di condong catur mas,.. dolan aja kapan2
aku punya uca200, kenapa tidak bisa untuk input ya? volume inputnua nda bisa keluar. thanks atas infonya. mohon bantuannya, apakah perlu driver lagi?
nggak bisa input gimana maksudnya bro?
OS nya pake apa kalo boleh tau?
kalo Windows dari XP ampe Windows 7 udah langsung detek kok bro
Bang, boleh minta driver UCA 200 nya ga?
coz punya aku entah keselip di mana tuh mentahan.
Thank
silakan download disini bos :
website support and driver Behringer
jugja di mana mas saya mau beli uca 200
Ada toko musik di Gejayan dkt DH99 (lupa namanya), dulu belinya disitu
Salam , regone pinten Gan ? Pnah ngetes merk JTS mboten ? Kulo dereng nate ngangge niki, seringe langsung colok out headphone laptop to mixer je, kalo ga pas dados ndengung mboten jelas…
200an ewu om
JTS belum pernah tes dengar …
Level in putnya gak bisa diatur … gak seperti soundcard lainnya yg bisa diatur Level in put nya ….
ini lebih sebagai DAC doank mas, dan emang suaranya totally flat menurut saya. Buat para audiophile suara flat seperti ini yang diburu